Jakarta (KABARIN) - Keputihan adalah hal umum bagi perempuan, tapi perubahan pada warna, bau, tekstur, atau jumlahnya bisa jadi tanda masalah kesehatan yang serius.
Dokter spesialis onkologi radiasi Dr. Lohith Reddy dari HCG Hospitals menjelaskan bahwa meski keputihan normal terjadi karena siklus menstruasi, kehamilan, atau perubahan hormon, keputihan yang berubah-ubah dan menetap sebaiknya tidak diabaikan.
“Saya sering menemui perempuan yang didiagnosis kanker serviks pada tahap di mana tanda peringatan sebenarnya sudah ada, tetapi terabaikan. Salah satu gejala yang paling umum namun sering diremehkan adalah keputihan yang menetap atau tidak biasa,” kata Dr. Lohith.
Warna keputihan bisa menjadi indikator awal. Keputihan bening atau putih adalah normal, tapi keputihan bercampur darah, merah muda, cokelat, atau encer di luar masa haid harus diwaspadai.
Keputihan kuning, hijau, atau abu-abu biasanya menandakan infeksi, dan jika terus berlangsung atau tidak membaik dengan pengobatan rutin, pemeriksaan serviks menyeluruh sangat dianjurkan.
Dr. Reddy menambahkan bahwa keputihan terkait kanker serviks sering tampak encer bercampur darah, terutama setelah berhubungan seksual, di antara periode menstruasi, atau setelah menopause.
Selain warna, bau juga penting. Keputihan sehat hampir tidak berbau, sementara bau kuat atau busuk yang menetap bisa menjadi tanda penyakit serius. Keputihan akibat kanker tidak membaik dengan pengobatan standar, berbeda dengan infeksi seperti vaginosis bakterialis.
Tekstur keputihan juga memberi petunjuk penting. Keputihan yang sangat encer dan banyak, bahkan bisa membasahi pakaian dalam, patut diwaspadai. Seiring waktu, cairan bisa menjadi lengket, bernanah, atau bercampur darah. Berbeda dengan keputihan normal yang bersifat siklik, keputihan akibat kanker bersifat menetap dan semakin memburuk.
Dr. Lohith menekankan agar setiap perubahan keputihan yang tidak biasa segera diperiksa oleh tenaga medis untuk mencegah komplikasi serius.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026