Jakarta (KABARIN) - Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Phoebe Ramadina M.Psi, Psikolog mengatakan dalam menyikapi perilaku orang yang pamer atau flexing perlu menjaga respon yang tetap sehat secara psikologis serta tidak terjebak harus “mengimbangi” apa yang ditampilkan.
“Respon yang netral dan tidak memperpanjang diskusi ke arah kompetisi sudah cukup, sambil tetap menjaga kesadaran bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya,” kata Phoebe kepada ANTARA, Selasa.
Phoebe mengatakan pada momen seperti lebaran dimana keluarga besar berkumpul sering kali memunculkan dinamika membandingkan apa yang telah dicapai atau dimiliki yang cukup kuat.
Biasanya, orang yang flexing cenderung membutuhkan validasi dan pengakuan dari lingkungan bahwa mereka telah “berhasil” atau setidaknya tidak tertinggal dibandingkan anggota keluarga lain. Perilaku ini juga memiliki keterkaitan dengan konteks budaya yang sering mengaitkan kesuksesan dengan pencapaian materi dan status sebagai simbol keberhasilan.
Selain itu, perilaku ini juga bisa menjadi bentuk kompensasi dari rasa tidak aman atau ketakutan dianggap gagal.
Phoebe mengatakan perilaku flexing terkadang juga mengarah pada dorongan psikologis yang lebih dalam yakni dengan menyewa barang-bawang mewah untuk mendapat penilaian orang lain dan terlihat berhasil meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Perilaku ini biasanya karena adanya tekanan sosial dalam keluarga, fear of missing out (FOMO), serta harga diri yang belum stabil.
“Di era yang sangat menekankan pencitraan, penampilan eksternal sering kali dianggap lebih penting daripada keaslian, sehingga individu rela melakukan berbagai cara untuk memenuhi ekspektasi sosial tersebut,” kata psikolog di Personal Growth ini.
Phoebe mengatakan dalam menghadapi perilaku anggota keluarga yang flexing, penting untuk tetap berakar pada nilai dan standar diri sendiri, serta menjaga jarak secara emosional jika interaksi tersebut mulai terasa melelahkan.
Selain itu, rasa empati juga perlu dikembangkan karena perilaku tersebut bisa menjadi cara individu mencari pengakuan atau rasa dihargai.
Sebaliknya, agar momen seperti Lebaran menjadi lebih bermakna, pembahasan dalam keluarga sebaiknya diarahkan pada hal-hal yang memperkuat koneksi emosional, bukan sekadar pencapaian.
“Misalnya dengan berbagi pengalaman hidup, termasuk tantangan dan pelajaran yang didapat, mengingat kembali kenangan keluarga, atau saling memberikan apresiasi secara tulus,” sarannya.
Membicarakan harapan ke depan serta menanyakan kondisi emosional satu sama lain juga dapat membuka ruang percakapan yang lebih dalam dan hangat. Dengan demikian, kebersamaan tidak hanya terasa di luar, tetapi juga memperkuat relasi kekeluargaan yang lebih suportif.
Sumber: ANTARA