Lubuk Basung (KABARIN) - Sebanyak 2.497 warga Kabupaten Agam, Sumatera Barat, hingga kini masih harus mengungsi setelah rumah mereka rusak dan berada di zona merah akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.
"Masih ada 2.497 warga mengungsi dan ini berdasarkan hasil validasi yang kita lakukan," kata Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Sekretariat Daerah Agam Yunilson di Lubuk Basung, Jumat.
Yunilson menjelaskan, ribuan pengungsi itu tersebar di tiga kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Palembayan sebanyak 623 orang, Tanjung Raya 1.192 orang, dan Malalak 280 orang. Warga terpaksa meninggalkan rumah mereka karena bangunan rusak parah dan lokasi tempat tinggal masuk dalam zona rawan bencana.
"Mereka mengungsi di tempat ibadah, rumah tetangga, dan sejumlah tempat lainnya akibat rumah mereka rusak dan berada di zona merah," ujarnya.
Para warga ini sudah mengungsi sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor menerjang Agam pada akhir November 2025. Hingga sekarang, sebagian besar dari mereka belum bisa kembali ke rumah karena kondisi wilayah yang belum aman.
"Mereka mengungsi sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda daerah itu pada akhir November 2025," katanya.
Dampak bencana tersebut juga sangat berat dari sisi korban jiwa. Yunilson menyebut total 166 orang meninggal dunia, dengan rincian Palembayan 146 orang, Malalak 17 orang, Tanjung Raya 10 orang, Matur satu orang, dan Ampek Nagari satu orang.
Selain itu, masih ada 36 warga yang dilaporkan hilang. Rinciannya, Palembayan 32 orang, Malalak satu orang, Tanjung Raya dua orang, dan Lubuk Basung satu orang.
Cerita pilu datang dari Rahmat Hidayat, salah satu warga Tanjung Raya. Ia mengaku kini mengungsi bersama keluarganya di bekas kandang sapi milik warga karena rumahnya rusak berat akibat bencana.
"Kami mengungsi di sini setelah pemilik memberikan izin dan langsung kami bersihkan secara bersama-sama," katanya.
Rahmat mengungkapkan rumahnya mengalami kerusakan parah dan lokasinya berada di zona merah, sehingga tidak memungkinkan untuk ditempati kembali. Ia berharap pemerintah bisa segera menyediakan hunian sementara untuk keluarganya.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026