Jakarta (KABARIN) - Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf memperkenalkan program Beras Haji Nusantara sebagai langkah pemerintah untuk memastikan kebutuhan pangan jamaah calon haji Indonesia tahun 1447 Hijriah atau 2026 terpenuhi dengan baik.
Program ini bertujuan agar jamaah mendapatkan beras berkualitas tinggi sekaligus mendukung produk beras lokal di Tanah Air.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap butir nasi yang dikonsumsi jamaah haji kita memiliki kualitas terbaik dan cita rasa nusantara,” ujar Gus Irfan di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan total kebutuhan beras untuk 205.420 orang, termasuk jamaah reguler dan petugas, mencapai 2.280 ton. Perhitungan ini didasarkan pada frekuensi makan jamaah yang 78 kali di Makkah, 27 kali di Madinah, dan enam kali di wilayah Armuzna.
“Oleh karena itu, kami mendorong penggunaan Beras Haji Nusantara dengan spesifikasi premium, long grain, dan tingkat pecahan maksimal 5 persen,” tambahnya.
Selama ini, dapur penyedia layanan di Arab Saudi umumnya menggunakan beras impor dengan harga sekitar 150 SAR per 40 kg atau setara Rp16.824 per kg. Melalui program ini, pemerintah menargetkan harga Beras Haji Nusantara sekitar Rp16.000 per kg saat tiba di dapur penyedia layanan, sekaligus untuk efisiensi dan standarisasi menu jamaah.
Setiap porsi makan jamaah akan terdiri dari nasi 170 gram, lauk 80 gram, sayur 75 gram, serta air mineral dan pelengkap lainnya.
Kemenhaj juga menghadapi beberapa tantangan, termasuk mekanisme penggunaan Cadangan Beras Pemerintah yang harus melalui rakortas di tingkat Menko Pangan dan penyesuaian kualitas dari medium ke premium.
“Untuk menyukseskan rencana ini, kami akan membentuk Pokja Beras Haji Nusantara lintas kementerian/lembaga dan mewajibkan penggunaan beras Indonesia bagi seluruh dapur penyedia layanan melalui penugasan Kantor Urusan Haji,” ujar Gus Irfan.
Ia menambahkan koordinasi dengan Menko Pangan terkait mekanisme Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Haji serta pembahasan anggaran tambahan untuk subsidi juga akan dilakukan.
“Nantinya pemerintah pun akan menetapkan harga yang kompetitif agar bisa diterima oleh ekosistem dapur di Saudi,” tutup Menhaj Mochamad Irfan Yusuf.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026