Kemenag Gandeng Konten Kreator untuk Belajar Soal Pengamatan Hilal

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Kementerian Agama bakal melatih para konten kreator dan influencer muda agar paham soal pengamatan hilal yang selama ini jadi dasar penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Kemenag membuka pendaftaran untuk program ini dengan kuota hingga sekitar seribu peserta. Peserta terpilih akan mengikuti pelatihan secara daring dan luring yang dijadwalkan pada Selasa 17 Februari 2026.

“Persoalan hilal bukan isu baru. Sejak masa Rasulullah, umat sudah bertanya tentangnya. Karena itu, penjelasannya harus berbasis ilmu, bukan asumsi atau spekulasi,” ujar Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat di Jakarta, Senin.

Program bertajuk Yasalūnaka ‘an al-Ahillah Hilal Observation Coaching ini ditujukan bagi kreator konten dan influencer berusia maksimal 35 tahun, berdomisili di Jabodetabek, serta memiliki akun media sosial aktif dengan minimal 3.000 pengikut.

Arsad menjelaskan kegiatan ini dibuat untuk membantu masyarakat lebih paham soal proses penetapan awal Ramadhan yang dilakukan pemerintah melalui pendekatan ilmiah dan keagamaan.

Ia menilai di era banjir informasi digital, kreator konten punya peran penting dalam menyampaikan isu keagamaan ke publik. Karena itu, pemahaman soal hisab dan rukyat dianggap penting agar informasi yang disebarkan tidak bikin bingung masyarakat.

Lewat program ini, peserta tidak hanya dikenalkan pada hasil penetapan awal bulan Hijriah, tapi juga diajak memahami prosesnya, mulai dari konsep hilal, dasar astronomi, sampai mekanisme pengambilan keputusan pemerintah.

“Kami ingin para konten kreator memahami prosesnya secara menyeluruh. Dengan begitu, konten yang disampaikan kepada masyarakat bersifat edukatif, menyejukkan, dan memperkuat kepercayaan publik,” katanya.

Pelatihan ini dikemas lewat edukasi, simulasi, dan visualisasi pengamatan hilal. Peserta juga akan dikenalkan dengan alat rukyat serta cara menyampaikan informasi falak secara sederhana tapi tetap akurat.

Kemenag juga membuka ruang kolaborasi dengan generasi muda untuk memperkuat literasi keislaman yang moderat dan berbasis ilmu, terutama menjelang Ramadhan.

“Dengan edukasi yang tepat, perbedaan dalam penentuan awal bulan dapat disikapi secara dewasa, saling menghormati, dan tetap dalam bingkai persatuan,” ujar Arsad.

Kegiatan ini digelar secara hybrid. Sebanyak 30 peserta dengan jumlah pengikut terbanyak akan diundang hadir langsung di Auditorium HM Rasjidi Kementerian Agama Jakarta Pusat, sementara sekitar 1.000 peserta lainnya mengikuti secara daring.

Arsad berharap para peserta bisa jadi mitra strategis Kementerian Agama dalam menyebarkan literasi keislaman berbasis ilmu, agar masyarakat mendapat pemahaman yang utuh dan seimbang soal penetapan awal Ramadhan.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka