News

Lalat Buah Dikenalkan sebagai Model Riset Strategis

Makassar (KABARIN) - Tim peneliti Unhas Fly Research Group (UFRG) memperkenalkan lalat buah sebagai model riset strategis dalam berbagai bidang penelitian, mulai dari genetika, biologi perkembangan, hingga riset penyakit dan terapi.

Prof Firzan Nainu SSi PhD Apt dari Fakultas Farmasi Unhas melalui webinar Fly Research Group Outreach 2026 di Makassar, Selasa, menjelaskan bahwa Drosophila melanogaster atau lalat buah merupakan model biologis yang sangat kuat untuk menjawab pertanyaan besar dalam biologi dan kesehatan manusia.

Outreach 2026 merupakan bagian dari penguatan kerja sama akademik internasional antara Universitas Hasanuddin, The University of Queensland, dan University of Cambridge.

Sekitar 75 persen gen manusia terkait penyakit memiliki pasangan fungsional pada Drosophila, dengan kesamaan tidak hanya pada struktur gen, tetapi juga fungsi biologis dan mekanisme seluler. Hal ini menjadikan Drosophila sangat efektif sebagai model screening untuk memahami mekanisme penyakit dan terapi.

Rencana tubuh organisme, kata dia, dikendalikan program genetik yang bekerja melalui jaringan gen hierarkis dan bersifat evolusioner serta terkonservasi lintas spesies, sehingga temuan pada Drosophila relevan untuk menjelaskan berbagai penyakit manusia, seperti kanker, gangguan metabolik, penyakit degeneratif, dan proses inflamasi.

Sementara Prof Toshiyuki Takano dari Kyoto Drosophila Stock Center, Kyoto Institute of Technology, Jepang, mengatakan pemanfaatan koleksi Drosophila memungkinkan kajian penyakit secara lebih sistematis, terintegrasi, dan efisien, sekaligus menjembatani pendekatan lintas disiplin dari genetika, biologi sel, biomedis, hingga pengembangan terapi.

Selanjutnya, kegiatan ini dilanjutkan dengan pemaparan dua narasumber internasional lainnya, yakni Assoc. Prof Karyn Johnson dari The University of Queensland, Australia, dan Prof Tim Weil dari The University of Cambridge, Inggris.

Prof Karyn menjelaskan pemahaman interaksi antara inang dan virus yang merupakan kunci penting dalam pengendalian penyakit infeksi, khususnya penyakit yang ditularkan melalui vektor serangga.

Menurutnya, Drosophila melanogaster memiliki peran strategis sebagai model organisme karena kemudahan manipulasi genetik serta kemiripan mekanisme imun dasarnya dengan organisme tingkat tinggi.

Prof Karyn mengatakan sekitar 15 persen penyakit infeksi pada manusia ditularkan melalui serangga, terutama nyamuk, sebagai vektor berbagai patogen berbahaya Dalam konteks tersebut, Drosophila digunakan sebagai model eksperimental untuk mengkaji bagaimana virus berinteraksi dengan sistem imun inang.

“Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi jalur molekuler dan respons imun yang berperan dalam membatasi maupun memfasilitasi infeksi virus. Temuan-temuan dari penelitian berbasis Drosophila diharapkan dapat menjadi landasan penting dalam memahami proses serupa,” jelas Prof Karyn.

Menutup pemaparannya, Prof Karyn menyimpulkan bahwa molekul microRNA (miRNA) memiliki dampak fungsional yang luas terhadap proses infeksi virus.

Pengaruh miRNA dapat bersifat spesifik terhadap jenis virus tertentu maupun bersifat umum terhadap berbagai virus, sehingga pemahaman mengenai peran miRNA membuka peluang pengembangan strategi pengendalian penyakit berbasis molekuler yang lebih efektif di masa depan.

Sementara itu, ketua panitia webinar Mukarram Mudjahid MSi Apt mengatakan, Outreach 2026 tidak hanya memberikan pemahaman ilmiah, tetapi juga membangun soft skills, kepemimpinan akademik, dan kapasitas implementasi riset di masing-masing institusi.

Ia menjelaskan, tercatat sebanyak11 universitas di luar Unhas menyatakan minat untuk terlibat, dengan 13 dosen perwakilan kampus serta sekitar 100 mahasiswa berlatar belakang Farmasi mengikuti kegiatan ini.

Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: