News

FBI Peringatkan Potensi Serangan Drone Iran ke Aparat California

Washington (KABARIN) - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat atau FBI memperingatkan aparat penegak hukum di negara bagian California terkait kemungkinan serangan drone balasan dari Iran. Peringatan itu disampaikan setelah muncul informasi intelijen yang mengindikasikan potensi ancaman terhadap wilayah AS.

Laporan mengenai peringatan tersebut pertama kali diungkap oleh ABC News pada Rabu, yang menyebut FBI telah membagikan informasi itu kepada sejumlah departemen kepolisian di California.

Dalam peringatan tersebut disebutkan bahwa Iran diduga sempat mempertimbangkan rencana serangan menggunakan drone yang diluncurkan dari kapal di lepas pantai Amerika Serikat.

"Kami baru-baru ini memperoleh informasi bahwa pada awal Februari 2026, Iran diduga berencana menyerang dengan drone dari kapal tak dikenal di lepas pantai AS, khususnya terhadap target yang tidak ditentukan di California, jika AS menyerang Iran," menurut peringatan yang dibagikan ke departemen kepolisian akhir Februari.

Meski demikian, FBI menegaskan bahwa informasi tersebut masih terbatas. Hingga saat ini belum ada rincian tambahan terkait waktu pasti serangan, metode yang akan digunakan, target spesifik, ataupun siapa pihak yang kemungkinan terlibat dalam rencana tersebut.

Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi memanas setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan operasi militer terhadap sejumlah target di Iran.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Iran kemudian merespons dengan melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pada awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa operasi militer tersebut merupakan langkah pencegahan untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun dalam perkembangannya, kedua negara juga menegaskan bahwa mereka ingin mendorong perubahan kekuasaan di Iran.

Ketegangan semakin meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, gugur pada hari pertama operasi militer tersebut. Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Peristiwa itu memicu reaksi keras dari sejumlah negara. Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel, serta menyerukan de-eskalasi dan penghentian permusuhan secepat mungkin.

Di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas, peringatan FBI kepada aparat keamanan di California menunjukkan bahwa dampak konflik ini berpotensi meluas hingga ke wilayah Amerika Serikat sendiri.

Penerjemah: Katriana
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: