Jakarta (KABARIN) - Di abad ke-21, perang besar jarang dimulai dengan deklarasi resmi atau mobilisasi pasukan, seperti pada abad sebelumnya. Ia sering kali dimulai dalam kesunyian, di ruang analisis intelijen, di pusat pengawasan satelit, atau di jaringan komputer yang menembus sistem pertahanan negara lain.
Ketika publik akhirnya melihat rudal diluncurkan atau drone menghantam target, konflik itu sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelumnya. Dalam konteks ketegangan antara Iran di satu sisi dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain, medan perang yang paling menentukan justru bukan berada di langit Timur Tengah, melainkan di dunia intelijen.
Apa yang tampak di permukaan, seperti serangan rudal, operasi drone, dan benturan militer terbatas, sebenarnya hanyalah puncak dari kontestasi strategis yang lebih dalam. Konflik ini merupakan duel panjang antara dua model kekuatan yang sangat berbeda. Di satu sisi terdapat dominasi teknologi, jaringan intelijen global, serta kemampuan pengawasan canggih milik Amerika Serikat dan Israel. Di sisi lain terdapat strategi pertahanan, perang asimetris, serta jaringan pengaruh regional yang dibangun Iran selama lebih dari empat dekade.
Akar rivalitas ini dapat ditelusuri kembali ke Revolusi Iran tahun 1979 yang menggulingkan pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi. Peristiwa tersebut mengubah Iran dari sekutu utama Barat menjadi salah satu penantang utama pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah. Sejak saat itu, hubungan antara Iran dan Amerika Serikat berkembang menjadi rivalitas strategis jangka panjang yang dipenuhi sanksi ekonomi, tekanan militer, serta operasi intelijen rahasia.
Dalam konfigurasi ini, Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, terutama terkait dengan program nuklirnya. Karena itu, Israel menempatkan Iran sebagai prioritas utama dalam operasi intelijen nasional. Lembaga intelijen Israel, Mossad, bersama badan intelijen Amerika Serikat, seperti CIA dan NSA, membentuk jaringan pengawasan yang sangat luas terhadap aktivitas militer Iran.
Amerika Serikat sendiri mengoperasikan jaringan satelit pengintaian militer yang mampu memantau berbagai wilayah strategis dunia. Teknologi tersebut memungkinkan aktivitas di fasilitas militer Iran diamati hampir secara real time. Informasi ini kemudian dipadukan dengan pengawasan komunikasi elektronik global serta jaringan agen manusia yang beroperasi secara rahasia.
Salah satu contoh paling terkenal dari operasi intelijen ini adalah serangan siber Stuxnet pada tahun 2010 yang merusak ribuan sentrifus di fasilitas nuklir Iran. Operasi tersebut menunjukkan perubahan mendasar dalam karakter peperangan modern. Sabotase strategis, kini tidak lagi harus dilakukan melalui bom atau serangan udara, tetapi dapat dilakukan melalui perangkat lunak berbahaya yang menyerang sistem industri.
Selain serangan siber, sejumlah ilmuwan nuklir Iran juga menjadi target operasi pembunuhan misterius dalam dua dekade terakhir. Beberapa fasilitas strategis Iran, bahkan mengalami ledakan atau gangguan teknis yang mencurigakan, termasuk di fasilitas nuklir Natanz dan pangkalan rudal Bid Kaneh. Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bahwa konflik antara Iran dan blok Barat telah lama berlangsung dalam bentuk perang bayangan.
Hanya saja, Iran bukanlah aktor pasif dalam dinamika ini. Menyadari bahwa mereka tidak dapat menandingi dominasi teknologi Barat secara langsung, Iran mengembangkan pendekatan yang berbeda dengan cara membangun sistem pertahanan yang berlapis, terdesentralisasi, dan sulit dilumpuhkan dalam satu serangan.
Salah satu konsep utama dalam doktrin militer Iran adalah “pertahanan mosaik”. Dalam konsep ini, struktur komando militer dirancang secara terdesentralisasi, sehingga unit-unit di lapangan tetap dapat beroperasi meskipun pusat komando utama diserang. Tujuan utama strategi ini adalah menggagalkan doktrin serangan “pemenggalan kepemimpinan” yang sering digunakan dalam operasi militer Barat.
Strategi Iran juga diperkuat oleh jaringan pengaruh regional yang luas. Melalui kelompok-kelompok sekutu, seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam Palestina di Palestina, Houthi di Yaman, serta berbagai milisi di Irak yang tergabung dalam Pasukan Mobilisasi Rakyat, Iran membangun lapisan tekanan militer di luar wilayahnya sendiri. Dengan pendekatan ini, konflik dengan Iran tidak hanya terjadi di wilayah Iran, tetapi dapat muncul di berbagai titik di Timur Tengah.
Selain itu, Iran juga mengembangkan strategi yang memanfaatkan ketimpangan biaya dalam sistem persenjataan modern. Drone kamikaze seperti Shahed-136 diproduksi dengan biaya relatif murah dibandingkan sistem pertahanan udara yang harus digunakan untuk menangkisnya. Dalam banyak kasus, biaya satu rudal pencegat dapat puluhan kali lebih mahal daripada drone yang diserang.
Ketimpangan biaya ini menciptakan dilema strategis bagi lawan Iran. Serangan drone dalam jumlah besar dapat memaksa negara lawan mengeluarkan biaya pertahanan yang sangat tinggi. Dalam jangka panjang, strategi tersebut tidak hanya bertujuan merusak target militer, tetapi juga menguras sumber daya ekonomi lawan.
Perbedaan paling menarik antara Iran dan Israel sebenarnya terletak pada filosofi intelijen yang mereka gunakan. Israel mengandalkan strategi intelijen presisi tinggi yang berfokus pada operasi rahasia berskala kecil, tetapi berdampak strategis. Operasi sabotase, pembunuhan target bernilai tinggi, serta infiltrasi teknologi menjadi ciri khas pendekatan ini.
Sebaliknya, Iran mengembangkan strategi intelijen yang lebih bersifat jaringan. Alih-alih bergantung pada satu struktur komando yang terpusat, Iran membangun sistem pengaruh regional melalui berbagai aktor non-negara. Pendekatan ini menciptakan kedalaman strategis yang luas, sehingga tekanan terhadap Iran tidak hanya dihadapi di dalam negeri, tetapi tersebar di berbagai kawasan Timur Tengah.
Perbedaan pendekatan ini membuat konflik antara Iran dan Israel sering kali berlangsung dalam bentuk permainan strategi jangka panjang. Israel berusaha menghambat kemampuan militer Iran melalui operasi presisi tinggi, sementara Iran mencoba menyeimbangkan kekuatan melalui jaringan pengaruh regional dan perang asimetris.
Dalam konteks yang lebih luas, konflik ini mencerminkan perubahan besar dalam karakter geopolitik global. Perang modern semakin jarang berupa benturan langsung antara dua negara besar. Sebaliknya, ia lebih sering muncul dalam bentuk perang bayangan yang melibatkan operasi intelijen, perang siber, manipulasi informasi, serta konflik melalui aktor proksi.
Dalam dunia seperti ini, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki senjata paling canggih. Ia lebih sering ditentukan oleh siapa yang mampu bertahan paling lama dalam permainan strategi yang kompleks. Terbukti drone-drone murah milik Iran mampu menembus pertahanan Iron Dome dan David’s Sling atau Arrow-3 milik Israel dan Amerika Serikat.
Iran diyakini masih memiliki cadangan rudal yang lebih hebat. Daya jangkaunya mencapai lebih dari 3.000 Km dengan kecepatan supersonik. Amerika Serikat dan Israel, hingga kini masih kebingungan untuk mencari penangkal baru terhadap drone dan rudal milik Iran. Inilah senjata yang membuat gentar Amerika Serikat dan Israel. Ditambah produksi cadangan rudal yang tidak bisa diprediksi jumlahnya, serta faktor kerja sama militer Rusia, China, dan Korea Utara, semakin membuat ciut nyali lawan.
Karena itulah Amerika Serikat dan Israel terus mendorong upaya internasional agar terjadi gencatan senjata. Amerika Serikat dan Israel terus berupaya mempengaruhi negara-negara teluk untuk membuat proposal resolusi Dewan Keamanan PBB yang memosisikan Iran sebagai pelaku utama perang. Upaya manipulasi ini diprotes oleh Menteri Luar Negeri Iran.
Amerika Serikat dan Israel terus berupaya meningkatkan eskalasi perang dengan melibatkan negara-negara Eropa. Sayangnya, sebagian negara-negara itu tidak merespon positif, mengingat pola yang sama terjadi pada perang Irak 2003, dimana Amerika Serikat menuduh Saddam Husein menyembunyikan senjata pemusnah massal yang tidak pernah terbukti.
Dimensi energi juga memainkan peran penting dalam konflik ini. Iran, menggunakan Selat Hormuz untuk membangun daya tawar ekonomi terhadap negara-negara yang bahkan tidak terlibat langsung dengan peperangan ini. Jalur laut yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia setiap hari atau 20 juta barel minyak dunia, menjadi titik penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Amerika Serikat dan Israel adalah pihak yang menyebabkan krisis energi global.
Jika dilihat dari perspektif geopolitik global, rivalitas antara Iran dan blok Barat sebenarnya mencerminkan perubahan keseimbangan kekuatan dunia. Era dominasi tunggal Amerika Serikat secara perlahan bergeser menuju sistem internasional yang lebih multipolar. Dalam sistem seperti ini, negara-negara yang tidak memiliki kekuatan militer konvensional sebesar negara adidaya justru semakin mengandalkan strategi asimetris, jaringan regional, serta operasi intelijen.
Karena itu, konflik Iran dan Israel mungkin tidak akan pernah benar-benar berakhir dalam bentuk perang terbuka yang besar. Ia lebih mungkin terus berlangsung dalam bentuk konflik terbatas, operasi rahasia, serta tekanan strategis yang silih berganti.
Dalam permainan geopolitik seperti ini, perang tidak selalu dimenangkan oleh negara yang paling kuat secara militer. Ia sering kali dimenangkan oleh negara yang paling sabar, paling adaptif, dan paling mampu membaca arah perubahan dunia. Dalam dunia intelijen, sering kali pihak yang bertahan paling lama justru menjadi pemenang pada akhirnya.
*) Ngasiman Djoyonegoro, analis intelijen, pertahanan, dan keamanan; penulis buku Sketsa Diplomasi dan Pertahanan Nasional dalam Menghadapi Tatanan Dunia Baru