Teheran (KABARIN) - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak pernah meminta gencatan senjata maupun membuka negosiasi dengan Amerika Serikat. Araghchi menyebut Teheran siap membela diri "selama yang diperlukan" terhadap apa yang disebutnya perang ilegal.
Dalam wawancara dengan CBS News yang ditayangkan Minggu 15 Maret, Araghchi membantah klaim bahwa Iran ingin konflik segera dihentikan.
"Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah minta negosiasi. Kami siap membela diri selama yang diperlukan," kata dia.
Araghchi menambahkan Iran akan terus melanjutkan operasi militernya sampai Presiden Donald Trump menyadari bahwa serangan terhadap Iran adalah perang ilegal tanpa kemenangan.
"Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus berunding dengan pihak Amerika, karena saat itu kami sedang berunding dengan mereka ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami, dan itu adalah yang kedua kalinya," ujar Araghchi.
Terkait jalur perairan di Selat Hormuz, Araghchi menegaskan Iran tidak menutupnya. Semua keputusan mengenai pelayaran berada di tangan militer Iran, dan saat ini sejumlah kapal dari berbagai negara diizinkan melintas dengan aman.
Soal isu nuklir, Araghchi kembali menekankan bahwa Iran tidak pernah berniat memiliki senjata nuklir. Sebelumnya dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat, Iran setuju mengencerkan uranium yang diperkaya, namun bahan nuklir yang tersisa kini "terkubur di bawah reruntuhan" akibat serangan terhadap fasilitas nuklir.
"Semuanya terkubur di bawah reruntuhan," ujarnya, dan menegaskan Iran tidak berencana mengambil kembali uranium yang sudah rusak tersebut.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026