News

AS Kaji Pengerahan Pasukan untuk Merebut Pulau Kharg di Iran

Moskow (KABARIN) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan langkah yang cukup berani. Yaitu, merebut Pulau Kharg di Iran bagian utara. Jika rencana ini benar-benar dijalankan, langkah tersebut akan melibatkan pengerahan langsung personel militer AS ke wilayah Iran.

Laporan dari Axios yang mengutip sejumlah sumber pada Senin menyebutkan bahwa Trump tertarik dengan skenario pengambilalihan penuh Pulau Kharg. Menurut sumber tersebut, langkah itu dinilai bisa memberi “pukulan telak” terhadap perekonomian Iran sekaligus memutus aliran pendanaan bagi pemerintah di Teheran.

Meski begitu, keputusan final belum diambil. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Axios bahwa Presiden AS tersebut masih belum menetapkan kebijakan apa pun terkait rencana tersebut.

Namun situasinya bisa berubah sewaktu-waktu. Menurut sumber yang sama, jika upaya memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz terus mengalami hambatan, opsi merebut Pulau Kharg bisa kembali dipertimbangkan secara serius.

Pulau Kharg sendiri merupakan salah satu titik penting dalam infrastruktur energi Iran. Pulau ini berfungsi sebagai pusat ekspor minyak utama negara tersebut, sehingga pengambilalihan wilayah itu berpotensi memberikan dampak besar terhadap sektor energi Iran.

Meski demikian, rencana ini juga membawa risiko besar. Axios melaporkan bahwa pengerahan pasukan AS ke wilayah Iran berpotensi memicu serangan balasan. Iran diperkirakan dapat menargetkan fasilitas produksi minyak maupun instalasi pipa di kawasan Teluk, terutama di Arab Saudi.

Ketegangan di kawasan sebenarnya sudah meningkat sejak 28 Februari lalu. Pada tanggal tersebut, AS bersama Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran. Serangan itu menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban jiwa.

Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel dan juga pangkalan militer AS yang tersebar di berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik tersebut ikut berdampak pada jalur perdagangan energi dunia. Situasi di sekitar Selat Hormuz memicu blokade “de facto” di jalur pelayaran strategis itu. Padahal, selat tersebut merupakan rute utama pengiriman minyak dan gas LPG dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global.

Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu kini mulai terasa luas, termasuk pada penurunan aktivitas ekspor serta produksi minyak di negara-negara Teluk. Jika konflik terus meningkat, dampaknya diperkirakan bisa merembet lebih jauh ke pasar energi dunia.

Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: