Moskow (KABARIN) - Pemerintah Italia melalui Menteri Pertahanan Guido Crosetto membuka kemungkinan untuk menarik pasukan mereka yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian UNIFIL di Lebanon seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Dalam sebuah wawancara, Crosetto menyebut kondisi di lapangan saat ini cukup rumit. Ia menilai jika keberadaan pasukan tidak lagi memberikan manfaat yang jelas, maka opsi pemulangan personel militer bisa saja dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas transportasi yang sudah disiapkan.
"Situasinya sangat kompleks, dan jika kita menganggap kehadiran militer kita dan kehadiran PBB tidak berguna… kita sudah memiliki sarana, baik angkatan laut maupun udara, untuk memulangkan tentara kita ke Italia," kata Crosetto dalam sebuah wawancara dengan radio RTL 102.5, Kamis.
Ia juga menegaskan bahwa keputusan terkait penarikan pasukan tidak akan diambil sepihak, melainkan melalui koordinasi dengan negara negara lain yang terlibat dalam misi tersebut.
Crosetto menambahkan bahwa meskipun konflik antara Hizbullah dan Israel masih berlangsung, hingga beberapa waktu terakhir belum ada serangan langsung ke pangkalan pasukan Italia di bawah misi PBB. Namun, fasilitas tersebut sempat terdampak akibat puing puing dari pertempuran di sekitar wilayah tersebut.
Di saat yang sama, beberapa negara lain juga mengambil langkah serupa terkait keselamatan personel mereka. Kementerian Pertahanan Kroasia melaporkan telah mengevakuasi delapan tentaranya dari misi NATO yang bertugas di Irak dan Lebanon.
Selain itu, Spanyol juga melakukan evakuasi terhadap sebagian pasukannya dari Irak, sementara ratusan personel lainnya masih bertahan di lokasi penugasan, menunjukkan bahwa berbagai negara mulai menyesuaikan langkah mereka mengikuti perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026