Jakarta (KABARIN) - Sebuah studi terbaru yang dimuat dalam American Journal of Preventive Medicine mengungkap bahwa tidak semua aktivitas duduk berdampak buruk bagi kesehatan. Duduk yang disertai aktivitas berpikir justru dinilai dapat membantu menjaga fungsi otak dalam jangka panjang.
Mengutip laporan dari Everyday Health pada 25 Maret, peneliti utama dari Karolinska Institute, Mats Hallgren, menjelaskan bahwa mengganti kebiasaan duduk pasif dengan aktivitas yang melibatkan pikiran berpotensi menekan risiko seseorang mengalami demensia di kemudian hari.
Penelitian ini melibatkan sekitar 21 ribu orang dewasa berusia 35 hingga 64 tahun yang tergabung dalam Kohort Maret Nasional Swedia. Mayoritas peserta merupakan perempuan, dan mereka diamati selama hampir 20 tahun.
Dalam penelitian tersebut, aktivitas duduk dibagi menjadi dua jenis, yakni pasif dan aktif secara mental. Aktivitas pasif meliputi menonton televisi, mendengarkan musik, atau berendam tanpa melakukan aktivitas berpikir. Sementara itu, aktivitas seperti membaca, bekerja di kantor, mengikuti rapat, hingga kegiatan seperti merajut atau menjahit termasuk kategori aktif secara mental.
Hasilnya menunjukkan bahwa kebiasaan duduk pasif berkaitan dengan risiko demensia yang lebih tinggi. Sebaliknya, aktivitas duduk yang melibatkan otak justru dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan tersebut.
Penelitian juga menemukan bahwa setiap tambahan satu jam aktivitas duduk yang aktif secara mental per hari dapat menurunkan risiko demensia sekitar empat persen. Bahkan, jika kebiasaan ini ditingkatkan tanpa mengubah aktivitas fisik lainnya, risiko demensia bisa turun hingga 11 persen.
Ahli neurologi dari Washington DC, Majid Fotuhi, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai temuan tersebut mengubah cara pandang tentang kebiasaan duduk.
“Dengan kata lain, tidak semua duduk itu sama. Duduk dapat melemahkan otak Anda atau memperkuatnya, tergantung bagaimana Anda menggunakan waktu tersebut,” kata Fotuhi.
Ia menambahkan, berbagai aktivitas seperti menulis atau membuat karya seni dapat membantu merangsang otak dan berpotensi menekan risiko demensia maupun Alzheimer.
Sementara itu, ahli neurologi perilaku Joel Salinas mengingatkan bahwa aktivitas seperti menggulir layar ponsel tanpa tujuan cenderung masuk kategori pasif secara mental. Namun, penggunaan gawai untuk belajar hal baru atau membaca secara mendalam masih bisa memberikan manfaat bagi otak.
Meski demikian, para ahli tetap menekankan pentingnya aktivitas fisik. Duduk terlalu lama tetap dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit seperti stroke, serangan jantung, hingga Alzheimer.
“Aktivitas yang melibatkan pikiran mungkin memberikan manfaat tambahan, tetapi tidak mengimbangi efek sistemik dari kurangnya aktivitas fisik dalam jangka panjang,” kata Salinas.
Karena itu, meskipun aktivitas duduk tidak bisa dihindari sepenuhnya, para peneliti menyarankan agar waktu duduk yang panjang diselingi dengan kegiatan yang merangsang otak agar kesehatan tetap terjaga.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026