Minsk (KABARIN) - Kasus infeksi hantavirus ternyata bukan hal baru di Belarus. Negara di kawasan Eropa Timur itu mencatat rata-rata sekitar 50 orang dirawat di rumah sakit setiap tahunnya akibat demam berdarah dengan sindrom ginjal atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang dipicu oleh virus tersebut.
Data itu disampaikan layanan medis Departemen Keuangan dan Logistik di Direktorat Regional Gomel Kementerian Dalam Negeri Belarus, seperti dilaporkan koresponden RIA Novosti pada Rabu (13/5).
"Infeksi hantavirus di Republik Belarus, terdeteksi sebagai kasus terisolasi setiap tahun, dengan rata-rata sekitar 50 orang per tahun dirawat di rumah sakit disertai HFRS," demikian isi pernyataan kementerian tersebut.
Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menyebut sebagian besar jenis hantavirus tidak menular dari manusia ke manusia. Virus ini umumnya menyebar lewat hewan pengerat, terutama melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus dan terhirup oleh manusia.
Karena itu, kebersihan lingkungan dan menghindari paparan area yang dipenuhi tikus menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan terhadap wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar Belanda MV Hondius. Kapal itu sebelumnya berlayar dari Argentina menuju Cape Verde dan dilaporkan mengalami wabah mematikan yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Kapal pesiar tersebut tiba di lepas pantai Kepulauan Canary pada 9 Mei. Setelah bersandar, seluruh penumpang langsung dievakuasi dan menjalani isolasi di fasilitas medis khusus.
Menurut para spesialis medis, kemungkinan penyebaran lebih luas di luar kapal pesiar dinilai sangat kecil. Hal itu karena semua penumpang kini masih menjalani karantina ketat hingga 45 hari ke depan.
Meski begitu, otoritas kesehatan belum menutup kemungkinan adanya tambahan kasus baru dari para penumpang yang sedang dikarantina.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada Selasa (12/5) melaporkan terdapat 11 kasus hantavirus di kapal tersebut. Dari jumlah itu, sembilan kasus dikonfirmasi sebagai virus Andes, salah satu jenis hantavirus yang dikenal berbahaya.
Sumber: SPU