Istanbul (KABARIN) - Suriah, Irak, dan Bahrain mengumumkan pembukaan kembali wilayah udara mereka pada Rabu (8/4) setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, menurut otoritas penerbangan sipil.
Kepala Otoritas Umum Penerbangan Sipil dan Transportasi Udara Suriah, Omar Hosari, mengumumkan bahwa semua koridor udara yang sebelumnya ditutup telah dibuka kembali dan lalu lintas udara di wilayah udara Suriah telah kembali normal.
Operasi di Bandara Internasional Damaskus telah kembali normal, dengan ketibaan dan keberangkatan penerbangan berjalan sesuai jadwal yang disetujui dan sesuai standar keselamatan internasional, tambah Omar dalam komentar yang dimuat Kantor Berita SANA.
Sebelumnya, Otoritas Penerbangan Sipil Irak juga mengkonfirmasi pembukaan kembali wilayah udara negara tersebut, menurut kantor berita Irak.
Sementara itu, kantor berita Bahrain BNA menyatakan Departemen Urusan Penerbangan Sipil Kementerian Transportasi dan Telekomunikasi Bahrain mengumumkan pembukaan kembali wilayah udara negara tersebut setelah penutupan sementara yang dilakukan sebagai tindakan pencegahan di tengah perkembangan regional.
Menurut BNA, otoritas penerbangan menekankan komitmennya untuk memastikan kelancaran lalu lintas udara sesuai dengan standar keselamatan dan keamanan tertinggi dalam koordinasi berkelanjutan dengan otoritas terkait untuk melindungi penerbangan dan penumpang.
Keputusan tersebut menyusul penutupan selama beberapa pekan yang diberlakukan sebagai tindakan pencegahan di tengah meningkatnya konflik regional, dengan para pejabat berulang kali menyebutkan risiko keamanan terhadap penerbangan sipil.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Selasa (7/4), mengumumkan bahwa ia setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua pekan.
Pengumuman itu dilakukan kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menerima perjanjian atau menghadapi apa yang ia gambarkan sebagai kehancuran "seluruh peradaban".
Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu hingga menewaskan lebih dari 1.400 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu Ayatollah Ali Khamenei. Otoritas Iran belum memperbarui jumlah korban dalam beberapa hari terakhir.
Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer milik AS. Hal itu juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.
Sumber: Anadolu
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026