Money

Harga Minyak Dunia Naik 8 Persen Gara-gara Trump Ancam Blokade Selat Hormuz

Moskow (KABARIN) - Harga minyak dunia langsung melonjak tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman blokade di Selat Hormuz. Lonjakannya nggak main-main, tembus hingga 8 persen.

Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh angka 102 dolar AS atau sekitar Rp1,7 juta per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global.

Pada Minggu (12/4) pukul 22.01 GMT atau Senin pukul 05.01 WIB, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni tercatat naik 7,76 persen dari penutupan sebelumnya, yakni di level 102,59 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis WTI untuk pengiriman Mei melonjak lebih tinggi, naik 8,2 persen ke posisi 104,51 dolar AS per barel.

Kenaikan harga ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang makin tegang. Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran sempat membuka jalur diplomasi lewat pembicaraan di Islamabad, Pakistan, usai adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.

Namun, harapan meredanya konflik langsung pupus. Wakil Presiden AS J. D. Vance yang memimpin delegasi menyatakan bahwa negosiasi gagal mencapai kesepakatan. Tim AS pun pulang tanpa hasil.

Merespons kebuntuan itu, Trump langsung mengambil langkah tegas. Ia mengumumkan rencana untuk memblokade semua kapal yang mencoba masuk dan keluar dari Selat Hormuz.

Tak hanya itu, Trump juga menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk melacak dan mencegat kapal-kapal yang melakukan pembayaran kepada Iran untuk melintasi jalur strategis tersebut.

Langkah ini diperkuat oleh United States Central Command (CENTCOM) yang memastikan bakal mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim yang terkait dengan Iran pada Senin pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB.

Situasi ini bikin pasar global langsung bereaksi keras. Soalnya, Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Sedikit saja gangguan di kawasan ini bisa langsung berdampak ke harga energi secara global.

Buat pasar, sinyalnya jelas: ketegangan belum selesai, dan risiko kenaikan harga energi masih terbuka lebar.

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: