Jakarta (KABARIN) - Organisasi sipil NAACP menggugat perusahaan kecerdasan artifisial xAI milik Elon Musk atas dugaan pencemaran udara dari operasional pusat data mereka di Amerika Serikat.
Gugatan tersebut diajukan terhadap anak usaha xAI, MZX Tech, terkait penggunaan turbin gas metana tanpa izin untuk memasok listrik ke pusat data Colossus 2 di South Memphis. Kasus ini dibawa ke Pengadilan Distrik Federal North Mississippi dengan mengacu pada Undang-Undang Udara Bersih.
Dalam tuntutannya, NAACP meminta agar xAI menghentikan penggunaan turbin ilegal tersebut serta menjatuhkan sanksi finansial atas dugaan pelanggaran hukum federal.
Berdasarkan dokumen gugatan, xAI diduga mengoperasikan sebanyak 27 turbin gas tanpa izin untuk mendukung operasional pusat data yang digunakan melatih asisten AI Grok. Turbin tersebut disebut menghasilkan polusi udara, bahan kimia berbahaya, serta partikel halus yang berisiko memicu gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, masalah pernapasan, hingga kanker.
Kekhawatiran semakin meningkat karena lokasi pusat data berada dekat dengan kawasan permukiman warga. Pengoperasian tanpa izin dinilai melanggar aturan yang mewajibkan setiap sumber emisi memiliki izin sebelum dibangun atau digunakan.
Sebelum membawa perkara ini ke pengadilan, NAACP telah lebih dulu mengirimkan pemberitahuan selama 60 hari kepada xAI, namun tidak mendapat tanggapan.
"Pengoperasian turbin-turbin ini secara terus-menerus oleh xAI tanpa izin dan tanpa pengendalian polusi yang memadai bukan hanya ilegal, tetapi juga mencederai hak keluarga-keluarga yang tinggal di dekatnya yang selama berbulan-bulan telah menyatakan kekhawatiran serius tentang bagaimana polusi udara dari pembangkit listrik pribadi perusahaan tersebut dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan mereka," kata Ben Grillot.
Ben menambahkan "xAI harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakan ceroboh dan melanggar hukumnya — dan itulah yang ingin dicapai oleh gugatan ini."
Di sisi lain, kebutuhan energi besar untuk pusat data AI juga mendorong sejumlah perusahaan teknologi mencari sumber energi alternatif. Perusahaan seperti Google, Meta, dan Amazon mulai berinvestasi pada energi nuklir, sementara perusahaan lain memanfaatkan generator gas.
Meski dinilai dapat menekan biaya operasional, langkah tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait dampak lingkungan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas pembangkit energi.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026