Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini tercatat menguat 32 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.229 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.243 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik, terutama kebuntuan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
“Upaya untuk mengakhiri perang AS-Iran tampaknya terhenti, dengan jalur air penting Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup, sehingga pasokan energi dari wilayah penghasil minyak utama di Timur Tengah tersebut tidak dapat diakses oleh pembeli global,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Iran disebut sempat mengajukan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun pihak Amerika Serikat disebut masih skeptis karena terkait pembahasan aktivitas nuklir di Teheran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga dikabarkan tidak puas dengan usulan terbaru Iran yang bertujuan meredakan konflik tersebut.
Menurut sumber yang dikutip, proposal Iran meminta pembahasan program nuklir ditunda hingga ketegangan mereda dan sengketa pelayaran di Teluk selesai lebih dulu.
Kondisi ini membuat situasi tetap buntu, sementara Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia dilaporkan masih mengalami gangguan.
Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat yang akan memberikan arah kebijakan suku bunga dan inflasi ke depan.
“Federal Reserve juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada hari Rabu (29/4/2026),” ujar Ibrahim.
Sementara itu, kurs acuan Bank Indonesia atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga tercatat melemah ke level Rp17.245 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.277 per dolar AS.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026