Moskow (KABARIN) - Dunia saat ini disebut sedang menghadapi salah satu krisis energi paling berat sepanjang sejarah. Kondisi ini dipicu memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung ke pasokan energi global.
"Dunia menghadapi apa yang bisa disebut sebagai krisis energi terparah yang pernah ada — salah satu yang menguji ketahanan ekonomi, masyarakat, dan kemitraan kita," kata Komisaris Eropa untuk Energi dan Perumahan Dan Jorgensen dalam konferensi pers di Brussels, Belgia,.
Pernyataan itu menunjukkan betapa seriusnya situasi yang sedang terjadi. Krisis ini bukan hanya soal harga energi yang melonjak, tapi juga berpengaruh ke stabilitas ekonomi hingga hubungan antarnegara.
Jorgensen yang juga mantan menteri pertanian Denmark mengungkapkan negara-negara Uni Eropa sudah menggelontorkan dana hingga 30 miliar euro atau sekitar Rp611 triliun untuk impor bahan bakar minyak sejak konflik pecah. Namun ironisnya, pengeluaran besar tersebut belum diiringi peningkatan pasokan energi.
Situasi makin rumit setelah pada 13 April Angkatan Laut Amerika Serikat mulai melakukan blokade terhadap jalur pelayaran yang keluar masuk pelabuhan Iran di kawasan Selat Hormuz.
Padahal Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak, produk turunan minyak, hingga gas alam cair global melewati kawasan tersebut.
Meski begitu, Amerika Serikat menyebut kapal dari negara lain tetap bisa melintas selama tidak melakukan pembayaran pungutan kepada pihak Teheran.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026