Moskow (KABARIN) - Perwakilan Tetap Rusia untuk Uni Eropa (UE) menyatakan UE telah menyebarkan disinformasi mengenai upaya evakuasi Rusia terhadap anak-anak di bawah umur dari zona konflik di Ukraina untuk menyatukan kembali keluarga yang terpisah akibat konflik.
"Kami menilai peristiwa ini sebagai kesengajaan untuk mempolitisasi isu sensitif ini guna mendiskreditkan upaya kemanusiaan Rusia. Faktanya, tidak pernah ada pemindahan paksa atau deportasi terhadap anak-anak Ukraina, baik di masa lalu maupun sekarang," menurut Perwakilan Tetap Rusia itu dalam sebuah pernyataan pada Senin (11/5).
Pernyataan itu dikeluarkan setelah UE menyelenggarakan pertemuan, yang menurut UE sebagai dugaan "penculikan" terhadap anak-anak Ukraina.
"Sejak awal operasi militer khusus, upaya negara kami difokuskan pada evakuasi anak-anak dari zona pertempuran demi melindungi nyawa dan kesehatan mereka, serta menyatukan kembali keluarga yang terpisah akibat konflik Ukraina," tambah Perwakilan tersebut.
Pada 2023, Rusia telah membangun jalur komunikasi dengan Ukraina terkait reunifikasi anak-anak dengan keluarga mereka.
"Meskipun Uni Eropa secara aktif menyebarkan kampanye disinformasi untuk menggambarkan Rusia sebagai pihak yang menghalangi dan tidak mau bekerja sama dalam isu ini, proses reunifikasi keluarga terus berjalan secara stabil," bunyi pernyataan tersebut.
Rusia juga menuding UE memberikan data palsu tentang jumlah anak-anak Ukraina yang dievakuasi.
"Berlawanan dengan klaim Ukraina dan perwakilan UE mengenai dugaan penculikan terhadap puluhan ribu anak, fakta sebenarnya menunjukkan hal sebaliknya. Dalam negosiasi di Istanbul, pada 2 Juni 2025, pihak Ukraina menyerahkan kepada Rusia daftar berisi 339 anak yang diyakini berada di negara kami," kata Perwakilan Tetap Rusia.
Namun demikian, menurut Rusia, verifikasi menunjukkan bahwa sebagian besar daftar anak-anak tersebut didasarkan pada data lama.
"Untuk anak-anak di bawah umur lainnya dalam daftar itu, pekerjaan verifikasi secara teliti sedang dilakukan bersama dengan pihak Ukraina guna memastikan dan memeriksa keberadaan kerabat mereka," demikian pernyataan Rusia.
Rusia juga sangat menghargai upaya mediasi dari Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Vatikan, Qatar, dan Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump dalam menyatukan kembali anak-anak yang terdampak konflik dengan keluarga mereka di Ukraina.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026