Istanbul (KABARIN) - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa tidak ada jalan militer untuk menyelesaikan persoalan yang melibatkan Iran, dan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan maupun ancaman dari pihak luar.
Dalam pertemuan menteri luar negeri BRICS 2026 di India, Araghchi menyampaikan bahwa Iran telah dua kali menjadi sasaran apa yang ia sebut sebagai agresi ilegal dari Amerika Serikat dan Israel dalam waktu kurang dari satu tahun, menurut laporan Kantor Berita Fars.
Forum BRICS sendiri mengangkat tema “Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan” di tengah meningkatnya ketegangan global, khususnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang disebut masih berlangsung sejak akhir Februari meski kini berada dalam fase gencatan senjata.
Araghchi menyebut Iran tidak akan menyerah dalam kondisi apa pun. Ia menegaskan bahwa setiap tekanan justru membuat negaranya semakin kuat dan bersatu.
“Sekarang harus jelas bagi semua orang bahwa Iran tidak terkalahkan dan setiap kali berada di bawah tekanan, Iran muncul lebih kuat dan lebih bersatu dari sebelumnya,” kata Araghchi.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi, meski siap mempertahankan diri jika menghadapi ancaman.
Menurutnya, angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga penuh untuk merespons setiap bentuk agresi, sementara rakyat Iran disebut tetap menginginkan perdamaian.
“Seperti yang telah berulang kali saya tekankan, tidak ada solusi militer untuk masalah apa pun yang berkaitan dengan Iran. Kami, rakyat Iran, tidak akan menyerah pada tekanan atau ancaman apa pun, tetapi kami akan merespons dengan hormat,” ucapnya.
Araghchi juga menegaskan bahwa Iran memandang dirinya sebagai pihak yang dirugikan dalam konflik tersebut, bukan sebagai agresor.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangkaian serangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kemudian memicu balasan hingga sempat mengganggu jalur penting Selat Hormuz.
Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April, meski perundingan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen. Sementara itu, Amerika Serikat disebut masih mempertahankan pembatasan maritim di kawasan Teluk sejak pertengahan April.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026