Money

IHSG Melemah di Sesi I akibat Tekanan Saham Energi dan Basic Materials

Pasar mencermati pidato Presiden terkait arah kebijakan ekonomi dan fiskal ke depan

Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi I perdagangan Rabu (20/5) ditutup melemah akibat tekanan dari saham sektor barang baku dan energi.

IHSG tercatat turun 38,50 poin atau 0,60 persen ke level 6.332,18. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan justru menguat tipis 0,23 poin atau 0,04 persen ke posisi 635,05.

Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan pelaku pasar sedang mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto terkait arah kebijakan ekonomi dan fiskal nasional ke depan, termasuk rencana pembentukan badan khusus ekspor komoditas.

“Pasar mencermati pidato Presiden terkait arah kebijakan ekonomi dan fiskal ke depan, termasuk pembentukan badan khusus ekspor komoditas yang memicu kekhawatiran di saham-saham berbasis komoditas, karena pasar khawatir ada potensi intervensi terhadap mekanisme ekspor maupun margin emiten,” ujar Elandry saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Selain itu, kata dia, investor juga masih bersikap wait and see terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait suku bunga acuan BI-Rate.

“Pasar cukup sensitif terhadap arah kebijakan moneter karena berkaitan langsung dengan stabilitas rupiah dan arus modal asing,” ujar Elandry.

Di sisi lain, efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan turun dari Rp335 triliun menjadi sekitar Rp268 triliun dinilai cukup positif bagi persepsi fiskal Indonesia karena menunjukkan upaya menjaga disiplin APBN.

“Namun sentimen tersebut belum cukup kuat menahan tekanan jual pasar secara keseluruhan,” katanya.

Dari faktor global, Elandry menyebut pasar masih dibayangi ketidakpastian arah suku bunga bank sentral AS The Fed dan penguatan dolar AS yang membuat aliran dana asing lebih selektif terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury membuat investor global sementara beralih ke aset yang dianggap lebih aman.

“Pasar juga masih dibayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan tensi geopolitik yang membuat appetite terhadap aset berisiko menurun,” ujar Elandry.

Menurut dia, investor asing saat ini cenderung berhati-hati dan defensif dengan melakukan profit taking pada saham-saham kapitalisasi besar di sektor perbankan dan komoditas.

“Investor asing masih akan sangat bergantung pada stabilitas Rupiah, arah BI Rate, serta persepsi terhadap kredibilitas fiskal pemerintah ke depan. Jika rupiah stabil dan tekanan global mulai mereda, peluang foreign inflow kembali terbuka,” ujar Elandry.

Ia memperkirakan pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan volatil dengan kecenderungan sideways hingga melemah terbatas, meski peluang technical rebound tetap terbuka apabila stabilitas rupiah terjaga dan kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah meningkat.

“Saya melihat sektor defensif, perbankan besar, konsumsi domestik, serta saham dengan fundamental kuat masih akan menjadi pilihan utama investor dalam kondisi pasar seperti saat ini,” ujar Elandry.

Pada penutupan sesi I, frekuensi perdagangan saham tercatat mencapai 1,6 juta transaksi dengan volume perdagangan sebanyak 27,55 miliar lembar saham senilai Rp13,67 triliun. Sebanyak 165 saham menguat, 521 saham melemah, dan 128 saham stagnan.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sembilan sektor berada di zona merah dengan sektor transportasi dan logistik mencatat pelemahan terdalam sebesar 4,12 persen, diikuti sektor barang baku 4,07 persen dan sektor energi 2,73 persen.

Saham-saham yang mencatat penguatan terbesar antara lain INTD, ZONE, APIC, MORA, dan INDR. Sementara saham dengan pelemahan terbesar yakni UANG, RLCO, TPIA, WBSA, dan SMMT.

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: