Jakarta (KABARIN) -
Penelitian terbaru menunjukkan olahraga rutin selama 12 minggu atau tiga bulan ternyata bisa membantu meningkatkan fungsi otak dan kemampuan kognitif.
Melansir dari laman Eating Well pada Rabu, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neuroscience “Brain Research” itu meneliti hubungan antara olahraga dan brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang berperan penting dalam pembentukan koneksi saraf baru di otak.
Para peneliti dari Inggris menjelaskan BDNF bekerja seperti “pupuk” bagi otak karena membantu proses neuroplastisitas atau kemampuan otak membentuk hubungan saraf baru.
Sebelumnya, para ilmuwan telah mengetahui bahwa olahraga dapat meningkatkan kadar BDNF sekaligus membantu memperbaiki memori dan fokus. Namun, penelitian terbaru ini mencoba memahami lebih jauh bagaimana peningkatan BDNF akibat olahraga memengaruhi fungsi otak secara langsung.
Penelitian melibatkan 23 orang berusia 18 hingga 55 tahun yang tergolong jarang berolahraga. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
Kelompok intervensi menjalani program latihan bersepeda selama 12 minggu dengan intensitas berbeda yang telah ditentukan peneliti.
Selama penelitian, peserta menjalani pemeriksaan darah, tes kebugaran VO2max, serta serangkaian tes memori dan fungsi kognitif pada minggu pertama, minggu keenam, dan minggu ke-12.
Hasil penelitian menunjukkan peserta yang mengalami peningkatan kebugaran kardiovaskular juga mengalami peningkatan produksi serum BDNF setelah olahraga intensitas tinggi.
Peningkatan kadar BDNF tersebut dikaitkan dengan aktivitas yang lebih baik pada area prefrontal cortex atau bagian depan otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, fokus, dan fungsi eksekutif.
Peneliti menyebut temuan itu memperkuat dugaan bahwa aktivitas fisik membantu memodulasi fungsi otak melalui peningkatan produksi BDNF.
Meski demikian, peneliti mengingatkan studi tersebut berskala kecil sehingga hasilnya perlu ditafsirkan secara hati-hati. Faktor hormonal antara peserta laki-laki dan perempuan juga belum diperhitungkan dalam penelitian tersebut.
Para ahli mengatakan gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk dapat mempercepat penuaan otak dan meningkatkan risiko penyakit neurologis seperti demensia.
Karena itu, mereka menyarankan masyarakat lebih sering bergerak dalam aktivitas sehari-hari, termasuk mengambil jeda bergerak setiap 30 hingga 60 menit.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, naik tangga, peregangan, latihan kekuatan, hingga yoga disebut tetap memberikan manfaat bagi kesehatan otak.
Selain meningkatkan BDNF, olahraga juga membantu memperlancar aliran darah ke otak sehingga pasokan oksigen dan nutrisi menjadi lebih optimal.
Peneliti menekankan masyarakat tidak harus melakukan olahraga berat hingga kelelahan untuk mendapatkan manfaat bagi otak. Menurut mereka, gerakan ringan yang dilakukan secara rutin tetap lebih baik dibanding tidak bergerak sama sekali.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026