Washington (KABARIN) - Presiden Donald Trump mengatakan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran kini sudah memasuki tahap akhir. Meski situasi masih penuh ketegangan, Trump mengaku pemerintahannya masih memberi kesempatan untuk tercapainya kesepakatan damai.
"Kita sedang berada di tahap akhir perundingan dengan Iran. Kita lihat saja apa yang akan terjadi," kata Trump pada Rabu (20/5).
Trump juga mengakui dirinya belum bisa memastikan apakah negosiasi tersebut bakal benar-benar menghasilkan kesepakatan atau justru berujung pada langkah lain yang lebih keras.
Dia mengatakan masih ada kemungkinan muncul “beberapa tindakan yang kurang menyenangkan” jika perundingan gagal mencapai hasil.
"Tetapi semoga hal itu tidak perlu terjadi," kata Trump.
Meski tensi hubungan kedua negara kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir, Trump menegaskan dirinya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan hanya demi kepentingan politik dalam negeri AS.
Presiden AS itu bahkan menepis anggapan bahwa ia sedang mengejar “kesepakatan terbatas” yang hanya fokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia yang sebelumnya terganggu akibat konflik.
"Kami akan memberikan kesempatan pada kesepakatan ini," kata Trump tentang potensi kesepakatan, menolak gagasan kompromi parsial.
"Saya tidak tergesa-gesa. Hanya karena pemilihan umum paruh waktu di depan mata, tidak berarti saya harus terburu-buru. Saya tidak tergesa-gesa," lanjutnya.
Di tengah proses negosiasi tersebut, Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya baru saja melakukan pembicaraan via telepon yang disebutnya berjalan “sangat baik” dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan dari Turkiye.
Turkiye sendiri disebut menjadi salah satu mediator penting dalam upaya perdamaian antara AS dan Iran.
Sementara itu, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih jauh dari kata tenang. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Rabu memperingatkan bahwa jika AS dan Israel kembali menyerang Iran, maka konflik bisa meluas hingga keluar kawasan Asia Barat.
Di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, juga mengeluarkan pernyataan keras lewat media sosial X.
Ia memperingatkan bahwa perang baru melawan Iran hanya akan membawa lebih banyak kerugian bagi AS. Dalam unggahannya, Araghchi juga menyinggung laporan terbaru Kongres AS yang menyebut puluhan pesawat militer Amerika hilang dalam konflik sebelumnya.
Konflik besar antara AS, Israel, dan Iran sendiri pecah pada 28 Februari lalu saat AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan ke Teheran dan beberapa kota lain di Iran.
Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Iran kemudian membalas lewat rentetan serangan rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer serta aset milik AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Setelah konflik memanas selama beberapa pekan, gencatan senjata akhirnya tercapai pada 8 April. Kedua pihak lalu sempat menggelar perundingan damai di Islamabad, Pakistan, pada 11 hingga 12 April, tetapi belum menghasilkan kesepakatan final.
Belakangan ini, pejabat AS dan Israel juga kembali meningkatkan ancaman untuk melancarkan serangan militer baru terhadap Iran jika negosiasi gagal.
Bahkan sehari sebelumnya, Trump sempat mengklaim para pemimpin Iran sedang “memohon” agar kesepakatan damai bisa segera tercapai. Ia juga memperingatkan bahwa serangan AS dapat kembali dilakukan dalam beberapa hari ke depan apabila pembicaraan tidak menemukan titik temu.
Baca juga: Iran Tegaskan Akan Kerahkan Senjata Baru Bila AS Melancarkan Serangan
Sumber: Xinhua