Kampanye digital ramah anak perlu digenjot untuk tingkatkan kesadaran publik

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Rissalwan Habdy Lubis, pengamat sosial dari Universitas Indonesia, menilai bahwa kampanye sosial yang gencar jadi kunci penting untuk mendorong empati dan pengetahuan masyarakat soal etika bermedia sosial sehingga ruang digital bisa lebih aman untuk anak.

Ia menyarankan agar iklan layanan masyarakat dibuat sebanyak mungkin di berbagai platform.

“Bikin saja iklan layanan masyarakat yang banyak seperti masa lalu, di televisi, di internet, di Youtube, diperbanyak saja konten itu. Kampanye sosialnya harus masif. Harus ada iklan layanan masyarakat yang lebih banyak,” kata Rissalwan seperti melansir ANTARA, Selasa.

Menurutnya, kondisi digital saat ini tidak bisa sepenuhnya dijauhkan dari anak. Konten yang kurang ramah anak pasti tetap ada dan sesekali terlihat oleh mereka, sehingga edukasi dan kampanye perlu dilakukan secara luas.

Rissalwan melihat PP Tunas yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai peluang besar untuk dijadikan materi kampanye sosial dari tingkat daerah agar masyarakat makin paham pentingnya etika digital. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah bisa ikut mendorong kesadaran ini lewat berbagai media seperti baliho, radio lokal, hingga radio komunitas.

Ia mengatakan bahwa aturan dalam PP Tunas sebaiknya tidak hanya menargetkan penyelenggara sistem informasi, melainkan juga memperluas edukasi bagi masyarakat umum melalui berbagai jenis media.

Ia juga menilai bahwa perlindungan anak di dunia digital perlu melibatkan banyak pihak. PP Tunas bisa bersinergi dengan Polri dan undang-undang terkait teknologi informasi agar ada sanksi administratif dan pidana yang jelas bagi pihak yang melanggar aturan.

Lingkungan sekitar anak, seperti sekolah, juga diminta meningkatkan literasi digital melalui kurikulum. Orang tua dan guru diharapkan memberi contoh perilaku bermedia sosial yang baik karena anak mudah meniru kebiasaan orang dewasa.

Rissalwan menekankan bahwa orang tua punya peran utama untuk mendampingi anak ketika berselancar di dunia maya. Ia menyebut proses ini sebagai semacam imunisasi digital.

“Yang bisa dilakukan adalah ‘imunisasi’ media sosial. Kita tetap mendampingi anak-anak kita dalam mengakses media sosial. Jadi itu memang satu hal yang menjadi wajar, kenapa? Karena memang prinsipnya kan pendidikan yang paling dasar itu kan di keluarga, bersama orang tua jadi anak didampingi,” ujarnya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka