Jakarta (KABARIN) - Tato memang jadi cara populer bagi banyak orang untuk mengekspresikan diri, tapi ternyata tinta yang masuk ke kulit nggak cuma soal estetika, tapi juga bisa berinteraksi dengan sistem imun tubuh, kata Manal Mohammed, Dosen Senior Mikrobiologi Medis di Universitas Westminster, seperti dilaporkan Science Alert, Minggu.
“Para peneliti menemukan bahwa tinta tato diserap oleh sel-sel kekebalan di kulit. Ketika sel-sel ini mati, mereka melepaskan sinyal yang membuat sistem kekebalan tetap aktif, menyebabkan peradangan pada kelenjar getah bening di dekatnya hingga dua bulan,” jelasnya.
Tinta tato sendiri adalah campuran kimia yang cukup kompleks. Ada pigmen untuk warna, cairan pembawa supaya tinta bisa menyebar, pengawet untuk cegah mikroba, dan sedikit pengotor. Bahkan banyak pigmen awalnya dibuat untuk industri seperti cat mobil, plastik, atau toner printer, bukan untuk disuntik ke kulit manusia.
Beberapa tinta juga mengandung logam berat seperti nikel, kromium, kobalt, dan kadang timbal yang bisa memicu alergi atau sensitisasi imun jika kadarnya tinggi.
Proses tato menyuntikkan tinta ke dermis, lapisan kulit di bawah permukaan, dan tubuh mengenali partikel itu sebagai benda asing. Sel imun berusaha menghilangkannya, tapi partikel terlalu besar sehingga justru terperangkap di sel kulit, yang bikin tato permanen.
Penelitian menunjukkan pigmen tato bisa mengganggu sinyal imun, yaitu komunikasi kimia antar sel imun untuk merespons infeksi atau vaksinasi. Tinta juga bisa mengandung senyawa organik seperti pewarna azo dan hidrokarbon aromatik polisiklik yang biasa ada di tekstil dan plastik.
“Saat ini, belum ada bukti epidemiologis yang kuat yang menghubungkan tato dengan kanker pada manusia. Namun, studi laboratorium dan hewan menunjukkan potensi risiko. Pigmen tato tertentu dapat terdegradasi seiring waktu, atau ketika terpapar sinar ultraviolet atau penghapusan tato laser, membentuk produk sampingan yang beracun dan terkadang karsinogenik,” jelasnya.
Intinya, bagi sebagian besar orang tato nggak menimbulkan masalah kesehatan serius, tapi tetap bukan tanpa risiko. Semakin banyak, besar, dan berwarna tato yang kamu punya, semakin tinggi jumlah bahan kimia yang masuk ke tubuh.
Ditambah paparan sinar matahari, proses penuaan, perubahan sistem imun, atau penghapusan tato pakai laser, risiko efek sampingnya bisa meningkat, dan sains masih terus mempelajarinya.
Sumber: ANTARA