7 Kebiasaan Sederhana yang Bikin Otak Lebih Sehat dan Mental Lebih Stabil

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Ketua dan direktur grup neurologi di RS Yatharth India Utara Dr. Kunal Bahrain mengatakan bahwa terdapat kebiasaan yang bisa diterapkan bagi seseorang untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesehatan otak.

“Banyak kekhawatiran sehari-hari, seperti konsentrasi yang buruk, sering lupa, ketidakstabilan emosi, dan kelelahan mental, terkait erat dengan bagaimana otak didukung setiap hari. Namun, kesehatan otak dapat dibentuk oleh kebiasaan yang konsisten dan didorong oleh gaya hidup yang memengaruhi kognisi, suasana hati, dan ketahanan dari waktu ke waktu,” katanya dikutip dari Hindustan Times, Selasa.


Ia menyebutkan terdapat tujuh kebiasaan yang bisa diterapkan untuk mendukung kesehatan otak dan mental yakni, memprioritaskan agar terpapar cahaya matahari pagi hari.

“Ini membantu menyinkronkan siklus tidur-bangun, meningkatkan kewaspadaan di siang hari dan mendukung kualitas tidur yang lebih baik di malam hari,” katanya.

Selain itu duduk di dekat jendela atau jalan pagi di luar ruangan juga bisa dilakukan.

Kemudian mengusahakan agar fokus pada satu tugas. Pasalnya, multi taring yang sering dilakukan memberikan beban kognitif yang berat pada otak, mengurangi efisiensi dan melemahkan rentang perhatian seiring waktu.

Menulis dengan alat tulis menurutnya ampuh untuk menjernihkan pikiran karena memberikan otak cara untuk mengatur informasi dan mengatur respons emosional.

Menulis jurnal singkat menurutnya juga mampu mengurangi stres dan meningkatkan pengaturan emosi. Kemudian, gerakan fisik seperti yoga, jalan kaki atau peregangan secara teratur juga mampu mendukung kesehatan otak dan kestabilan emosi.

Tidur tepat waktu menjadi pola yang berperan dalam konsolidasi memori, pemrosesan emosi dan pemulihan neurologis.

Lalu menetapkan batasan penggunaan alat digital juga diperlukan, sebab berlebihan terpapar digital membuat otak dalam kondisi waspada tinggi sehingga membatasi kemampuan untuk fokus mendalam.

Terakhir adalah jeda harian untuk mengurangi stres dan mengelola tuntutan emosi yang lebih baik.

“Praktik sederhana seperti pernapasan lambat, jeda penuh kesadaran sebelum bereaksi, atau menghabiskan waktu di lingkungan sosial yang mendukung membantu menggeser sistem saraf ke arah keadaan yang lebih tenang, meningkatkan stabilitas emosional dan pengambilan keputusan,” tutupnya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka