Psikolog: Anak dan Lansia Paling Rentan Trauma Saat Bencana

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) -

Bencana bukan hanya merusak rumah dan lingkungan, tetapi juga meninggalkan luka yang tak selalu terlihat: trauma psikologis. Menurut psikolog klinis sekaligus relawan Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Aceh Tamiang dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Anna Aulia, M.Psi., Psikolog, anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan mengalami dampak mental saat situasi darurat terjadi.

“Anak tidak selalu bisa bilang dia takut atau sedih. Biasanya terlihat dari perilaku, misalnya jadi tantrum, mudah marah, atau menangis terus,” ujar Anna dalam wawancara di Antara Heritage Center, Jakarta.

Anak-anak kerap menjadi kelompok pertama yang perlu mendapat perhatian serius. Bukan tanpa alasan—mereka belum mampu mengekspresikan emosi secara verbal seperti orang dewasa.

Trauma yang tidak ditangani dengan tepat bisa berdampak panjang. Konsentrasi belajar menurun, proses tumbuh kembang terganggu, hingga muncul masalah emosional yang menetap.

Karena itu, pendampingan psikologis sejak dini menjadi penting, bukan hanya untuk memulihkan kondisi saat ini, tetapi juga melindungi masa depan mereka.

Selain anak, lansia juga masuk kategori sangat rentan. Namun pendekatannya berbeda.

Menurut Anna, lansia cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk membuka diri. Banyak dari mereka hidup sendiri atau terpisah dari keluarga ketika bencana terjadi.

“Lansia biasanya lebih lama untuk didekati. Mereka memikirkan kehilangan, jauh dari anak dan keluarga,” jelasnya.

Perasaan kehilangan, ketidakpastian, dan perubahan drastis lingkungan membuat mereka rentan mengalami tekanan psikologis yang mendalam.

Meski tidak masuk kategori paling rentan, orang dewasa tetap berpotensi mengalami trauma—terutama jika kehilangan pekerjaan, rumah, atau anggota keluarga.

Bedanya, orang dewasa umumnya lebih mampu mengenali dan mengungkapkan kondisi emosinya. Namun, tanpa dukungan yang memadai, tekanan psikologis tetap bisa berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.


Peran Relawan dan Pentingnya Dukungan Sosial

Dalam praktiknya di Aceh Tamiang, Anna bersama tim melakukan penyaringan awal untuk mengidentifikasi penyintas dengan indikasi trauma berat.

Mereka yang membutuhkan mendapatkan layanan trauma healing, sementara dukungan psikososial diberikan secara luas guna membangun kembali rasa aman dan koneksi sosial di tengah masyarakat.

Namun Anna menegaskan, relawan bukanlah aktor utama dalam proses pemulihan.

“Relawan hanya fasilitator. Yang paling berperan adalah lingkungan terdekatnya,” katanya.

Dukungan keluarga, tetangga, dan komunitas menjadi fondasi terpenting dalam memulihkan kesehatan mental penyintas.


Bagian dari Upaya Pemerintah

Penerjunan relawan TCK ke Aceh merupakan bagian dari program pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dalam memperkuat layanan kesehatan pascabencana banjir.

Tak hanya memastikan layanan medis tetap berjalan, dukungan kesehatan mental juga menjadi prioritas. Sebab, di balik angka kerusakan dan korban terdampak, ada kondisi emosional yang juga perlu dipulihkan.

Bencana mungkin datang tanpa aba-aba. Namun dengan kepedulian, pendampingan, dan dukungan sosial yang kuat, proses pemulihan bisa berjalan lebih utuh—baik secara fisik maupun psikologis.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka