Tips Sehat dengan Pola Makan yang Seimbang Selama Ramadhan

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II Prof Trina Astuti mengatakan asupan makanan yang dikonsumsi selama bulan puasa berpengaruh terhadap kesehatan, sehingga pola, porsi, dan jenis makanan yang dikonsumsi perlu disesuaikan.

Trina di Jakarta, Senin, mengatakan bila pola dan porsi makan tidak seimbang, dapat berisiko menimbulkan masalah kesehatan yang bahkan bisa menjadi berlarut-larut.

"Saat berpuasa perut kosong lebih dari 8 jam, maka saat berbuka harus makan perlahan supaya perut tidak kaget. Minum air putih atau teh manis hangat, dilanjutkan dengan kurma, baru dilanjutkan dengan makanan utama setelah sholat maghrib. Konsumsi ini dapat memberikan energi secara berangsur," kata Trina.

Selain itu, pilihan jenis makanan juga harus disesuaikan dengan kondisi tubuh seseorang saat itu. Misalnya, bagi penderita diabetes, disarankan memilih sumber karbohidrat dengan indeks glikemik yang rendah di bawah 55 supaya gula darahnya tetap stabil saat berbuka puasa.

"Misalnya, beras basmati, beras merah, oat, roti gandum, atau pasta gandum utuh. Proteinnya pun harus seimbang mencakup protein nabati, protein hewani, serta buah dan sayur sebagai sumber seratnya," katanya.

Dia mengingatkan untuk memperhatikan proporsi makanan. Misalnya, karbohidrat harus lebih sedikit saat sahur, sementara saat berbuka puasa perbanyak sumber protein.

"Untuk memenuhi kebutuhan air harian selama puasa, atur pola minum juga. Misalnya, 2 gelas saat berbuka puasa, 4 gelas saat malam hari, dan 2 gelas saat sahur. Hindari teh, kopi, dan gorengan berlebihan saat sahur maupun berbuka puasa,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah mengingatkan masyarakat untuk memantau risiko kesehatan dengan memanfaatkan fitur Skrining Riwayat Kesehatan pada Aplikasi Mobile JKN. Skrining Riwayat Kesehatan ditujukan bagi peserta JKN berusia 15 tahun ke atas dan dilakukan setahun sekali.

“Melalui Skrining Riwayat Kesehatan, masyarakat bisa mengetahui kondisi kesehatannya, apakah berisiko mengidap penyakit kronis atau tidak. Skrining ini dilakukan setahun sekali, tapi besar dampaknya terhadap kesehatan masyarakat di masa depan.

Makin cepat diketahui seberapa besar risiko seorang peserta mengidap penyakit kronis, makin cepat ditangani. Artinya, jika sudah diketahui sejak dini, maka makin besar pula peluang peserta tersebut untuk mencegah kondisinya bertambah parah,” kata Rizzky.

Dalam skrining ini, peserta JKN diarahkan untuk mengisi sejumlah pertanyaan untuk mengetahui apakah dirinya berisiko mengidap penyakit kronis atau tidak. Prosesnya dapat dilakukan melalui Aplikasi Mobile JKN, chat Whatsapp PANDAWA di nomor 08118165165, lewat website resmi BPJS Kesehatan, atau dengan datang langsung ke FKTP.

Apabila hasil Skrining Riwayat Kesehatan menunjukkan peserta JKN tersebut berisiko, maka ia akan segera diarahkan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk menjalani pemeriksaan maupun penanganan lebih lanjut dari dokter.

Sebagai langkah antisipatif jika perlu berobat, Rizzky mengingatkan masyarakat untuk memeriksa status aktif-tidaknya kepesertaan JKN mereka. Adapun cara mengecek status kepesertaan JKN tersebut dapat dilakukan melalui PANDAWA, Aplikasi Mobile JKN, BPJS Kesehatan Care Center 165, maupun dengan mengunjungi kantor BPJS Kesehatan terdekat.

“Selagi masih sehat, sempatkan lah untuk mengecek status kepesertaan JKN Anda. Prosesnya tidak lama, namun penting dilakukan supaya tidak terkendala saat tiba-tiba sakit. Kalau status kepesertaan JKN kita aktif, sudah ada kepastian jaminan pembiayaan dari BPJS Kesehatan apabila sewaktu-waktu peserta JKN perlu segera membutuhkan layanan kesehatan,” imbau Rizzky.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka