Jakarta (KABARIN) - Aktris asal Amerika Amanda Seyfried menceritakan pengalamannya menjalani hidup dengan didiagnosis gangguan obsesif kompulsif atau OCD.
Menurut laporan People, Kamis (8/1) waktu setempat, bintang film “Mamma Mia!” itu dalam wawancara Vogue mengungkapkan dirinya didiagnosis mengalami OCD yang “ekstrem” ketika berusia 19 tahun, menjalani pemindaian otak dan mulai mengonsumsi obat yang masih diminumnya setiap hari.
“Saat itu saya tinggal di Marina del Rey dan sedang syuting Big Love, dan ibu saya harus mengambil cuti panjang dari pekerjaannya di Pennsylvania untuk tinggal bersama saya selama sebulan. Saya menjalani pemindaian otak, dan saat itulah saya mulai mengonsumsi obat, yang sampai hari ini masih saya minum setiap malam,” kenang bintang “Housemaid” itu.
Adapun gangguan obsesif kompulsif (OCD) ditandai dengan pola pikiran dan ketakutan yang tidak diinginkan yang mendorong seseorang melakukan perilaku berulang (kompulsi). Obsesi dan kompulsi ini mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan tekanan yang signifikan, sebagaimana dilaporkan Mayo Clinic.
Seyfried mengaku menghadapi OCD-nya sebagai aktris muda membuatnya tidak terlalu terpengaruh oleh penolakan profesional.
“Itu sudah jadi bagian dari dunia ini,” ujarnya.
Ia menekankan justru memastikan tidak terpicu faktor lain yang bisa membuat kondisinya tidak stabil, seperti “minum alkohol berlebihan atau begadang terlalu larut”—sebuah gaya hidup yang berbeda jauh dibandingkan rekan-rekannya di industri hiburan saat itu.
“Saya sering membuat rencana lalu akhirnya tidak jadi pergi. Sepertinya saya memang membuat pilihan…. Saya tidak masuk ke dunia klub malam. Saya harus berterima kasih pada OCD saya,” katanya sambil tertawa.
Amanda Seyfried sebelumnya mengungkapkan dalam wawancara dengan Allure pada 2016 bahwa dirinya rutin mengonsumsi obat OCD Lexapro sejak usia 19 tahun.
“Saya sudah mengonsumsinya sejak usia 19 tahun, jadi 11 tahun. Dosisnya paling rendah. Saya tidak melihat alasan untuk berhenti. Entah itu efek plasebo atau bukan, saya tidak mau mengambil risiko. Dan apa yang sebenarnya Anda lawan? Hanya stigma menggunakan sebuah alat?,” tutur dia.
Seyfried menekankan bahwa penyakit mental harus diobati sama seriusnya seperti penyakit fisik karena meski tak terlihat, kondisinya nyata.
“Penyakit mental harus ditangani seserius penyakit lainnya. Anda tidak bisa melihat penyakit mental: bukan benjolan, bukan kista. Tapi itu ada. Mengapa harus dibuktikan? Jika bisa diobati, maka obatilah,” ujarnya.
Sumber: People