Istanbul (KABARIN) - Suasana duka bercampur kemarahan menyelimuti pusat kota Minneapolis, Minnesota, setelah kematian Renee Nicole Macklin Good, seorang ibu tiga anak sekaligus penyair berusia 37 tahun, yang tewas ditembak petugas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE).
Insiden tersebut memicu aksi protes besar-besaran pada Sabtu (10/1), yang berujung pada penangkapan sedikitnya 29 orang oleh aparat keamanan setempat.
Para pendemo berkumpul di depan sebuah hotel di pusat kota Minneapolis yang diduga menjadi tempat menginap petugas ICE. Mereka menuntut keadilan atas kematian Good, yang terjadi tiga hari sebelumnya di tengah meningkatnya operasi imigrasi di wilayah Minnesota.
Menurut Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O’Hara, massa sempat berupaya memasuki hotel sebelum akhirnya aparat membubarkan aksi tersebut. Pihak kepolisian mengaku telah memberikan peringatan kepada para pendemo sebelum melakukan penindakan.
Situasi sempat memanas ketika seorang petugas kepolisian mengalami luka ringan akibat lemparan bongkahan es ke arah barisan aparat.
Kematian Renee Good bukan sekadar statistik penegakan hukum. Ia dikenal sebagai sosok kreatif dan penyair yang aktif menyuarakan isu kemanusiaan. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam, terutama bagi ketiga anaknya, sekaligus memantik perdebatan luas mengenai penggunaan kekuatan mematikan oleh agen federal.
Menanggapi insiden tersebut, Kantor Jaksa Agung Minnesota mengonfirmasi telah membuka penyelidikan bersama dengan Kantor Jaksa Wilayah Hennepin untuk mengumpulkan serta mengamankan bukti terkait peristiwa penembakan tersebut.
Di sisi lain, ketegangan juga melibatkan ranah politik. Anggota Kongres Ilhan Omar dilaporkan sempat dihalangi oleh agen federal saat hendak memasuki pusat penahanan ICE di dekat Minneapolis. Omar bersama dua anggota kongres lainnya berniat melakukan pengawasan resmi, namun diminta meninggalkan lokasi meski sempat diizinkan masuk.
Omar menyebut kejadian itu sebagai upaya menghalangi tugas pengawasan legislatif, sekaligus menambah sorotan publik terhadap transparansi lembaga penegak imigrasi.
Kasus ini menambah daftar panjang peristiwa yang memicu perdebatan nasional di Amerika Serikat mengenai kebijakan imigrasi, penggunaan kekuatan oleh aparat, serta perlindungan hak asasi manusia.
Sumber: ANAD