Dan, saya pikir turnamen AFF jadi sebuah kesempatan yang bagus untuk saya memahami seberapa dalam kolam talenta yang dimiliki Indonesia
Jakarta (KABARIN) - Pelatih anyar timnas Indonesia John Herdman menilai Kejuaraan ASEAN yang akan berlangsung pada Juli mendatang bakal menjadi ajang pembuktian bagi pemain di luar skuad utama.
Menurut Herdman, turnamen yang sebelumnya dikenal sebagai Piala AFF itu tidak masuk dalam kalender FIFA. Kondisi tersebut membuat pemain inti berpotensi sulit dilepas klub masing-masing, sehingga komposisi tim akan berbeda dari biasanya.
Dengan situasi itu, Herdman melihat Kejuaraan ASEAN sebagai momen penting untuk mengukur kedalaman skuad Merah Putih.
"Turnamen di bulan Juli dan Agustus adalah sesuatu yang berbeda. Akan sulit untuk membawa pemain tier 1 dan 2, karena mereka punya komitmen kepada klubnya, dan itu di luar kalender FIFA. Jadi, itulah pentingnya memiliki kolam talenta yang luas," kata Herdman dalam jumpa pers perdananya di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan, ajang ini membuka ruang bagi pemain yang jarang mendapat kesempatan tampil pada jadwal internasional resmi.
"Dan, saya pikir turnamen AFF jadi sebuah kesempatan yang bagus untuk saya memahami seberapa dalam kolam talenta yang dimiliki Indonesia. Lalu juga memberikan kesempatan kepada para pemain yang tidak mendapatkannya saat Maret atau Juni di kalender FIFA," ujar dia.
Tak hanya pemain lapis kedua, Herdman juga ingin memanfaatkan turnamen tersebut untuk memberi jam terbang kepada talenta muda. Menurutnya, pengalaman semacam ini penting untuk membangun fondasi tim dalam jangka panjang.
Herdman lalu membandingkan situasi ini dengan pengalamannya saat menangani Kanada di ajang Piala Emas CONCACAF. Saat itu, ia juga tidak bisa memanggil sejumlah bintang utama dan harus mengandalkan pemain lokal dengan jumlah yang lebih luas.
"Anda punya kesempatan untuk menggunakan kolam yang jauh lebih besar, dan itu mirip dengan apa yang kita lakukan di CONCACAF dengan Gold Cup (Piala Emas). Kita tidak punya akses untuk mendatangkan Alphonso Davies atau Jonathan David untuk turnamen itu. Anda harus menggunakan pemain lokal dan kolam yang jauh lebih besar. Dan, Anda bisa belajar dan melihat pemain di situasi itu," tutur pelatih berusia 50 tahun tersebut.
Indonesia sendiri sudah 15 kali ambil bagian di turnamen kawasan Asia Tenggara ini sejak pertama kali digelar pada 1996 di Singapura. Tim Garuda enam kali menembus partai puncak, namun belum pernah merasakan gelar juara.
Pada edisi terakhir tahun 2024 yang dimulai pada Desember, Indonesia gagal melaju dari fase grup. Saat itu, tim yang masih ditangani Shin Tae-yong mengandalkan banyak pemain muda dan finis di posisi ketiga dengan empat poin.
Turnamen tersebut menjadi ajang terakhir Shin Tae-yong bersama timnas sebelum posisinya digantikan oleh Patrick Kluivert pada Januari 2025.
Sumber: ANTARA