Malaysia Tegaskan Diri Akan Terlibat Langsung dalam Misi Sumud Gaza

waktu baca 2 menit

Istanbul (KABARIN) - Pemerintah Malaysia menegaskan akan turun langsung dalam misi kemanusiaan Sumud berikutnya menuju Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan menandai sikap tegas Kuala Lumpur dalam membela hak-hak rakyat Palestina.

Melalui unggahan di Facebook pada Selasa (13/1), Anwar menyebut pemerintah Malaysia “akan terlibat secara langsung” dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0, sebuah inisiatif kemanusiaan internasional yang melibatkan lebih dari 80 negara. Pernyataan itu juga disampaikan Anwar saat bertemu Direktur Jenderal Sumud Nusantara Command Center, Sani Araby, serta pendiri Sumud Nusantara, Nadir Al-Nuri.

“Kami akan mengerahkan seluruh upaya untuk membantu dan membela hak-hak rakyat Palestina. Keadilan tidak dapat ditunda lagi, demi Palestina yang bermartabat dan merdeka,” kata Anwar.

Menurut Anwar, keterlibatan langsung Malaysia dalam misi ini bukan sekadar bantuan kemanusiaan biasa. Ia menegaskan langkah tersebut merupakan kelanjutan dari perjuangan moral global yang menuntut keberanian untuk menegakkan keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan, tanpa memandang batas negara, ras, maupun agama.

Misi Sumud sendiri bukan tanpa risiko. Sebelumnya, Israel diketahui beberapa kali menyerang kapal-kapal yang berlayar menuju Jalur Gaza. Muatan bantuan disita, sementara para aktivis yang terlibat dideportasi secara paksa.

Pada Oktober lalu, angkatan laut Israel dilaporkan menyerang dan menyita lebih dari 40 kapal yang tergabung dalam armada bantuan kemanusiaan Global Sumud menuju Gaza. Tak hanya itu, Tel Aviv juga menahan lebih dari 450 aktivis yang berada di kapal-kapal tersebut. Banyak dari mereka kemudian menceritakan pengalaman traumatis dan perlakuan kasar yang diduga dilakukan oleh pihak Israel.

Israel sendiri telah memberlakukan blokade terhadap Gaza, wilayah yang dihuni sekitar 2,4 juta jiwa. selama hampir 18 tahun. Situasi semakin memburuk sejak Maret lalu ketika Israel menutup penyeberangan perbatasan dan memblokir masuknya makanan serta obat-obatan, mendorong Gaza ke ambang bencana kelaparan.

Serangan besar-besaran Israel di Gaza dimulai pada 8 Oktober 2023 dan berlangsung selama dua tahun hingga gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober lalu. Perang tersebut menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.

Dengan komitmen terbaru ini, Malaysia menegaskan posisinya sebagai salah satu negara yang secara konsisten menyuarakan dukungan nyata bagi Palestina, tidak hanya lewat pernyataan politik, tetapi juga aksi langsung di lapangan.

Sumber: Anadolu_OANA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka