Etihad Airways mengumumkan penghentian sementara seluruh penerbangan dari dan menuju Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, akibat penutupan wilayah udara regional yang tengah berlangsung.
Penghentian berlaku hingga pukul 02.00 waktu setempat pada Senin, 2 Maret 2026, untuk seluruh penerbangan terjadwal dari dan menuju Bandara Internasional Abu Dhabi.
Sebelumnya, maskapai milik pemerintah Abu Dhabi tersebut telah mengumumkan bahwa penerbangan dari Bandara Internasional Zayed berstatus ditangguhkan hingga Minggu pukul 14.00 waktu setempat.
Etihad mengimbau seluruh penumpang yang dijadwalkan bepergian selama periode ini untuk memantau pembaruan resmi serta mengikuti prosedur penjadwalan ulang atau pengajuan pengembalian dana.
Maskapai menyatakan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait guna menyelesaikan permasalahan wilayah udara secepat mungkin. Keselamatan penumpang dan staf ditegaskan sebagai prioritas utama, dan operasional normal akan kembali berjalan setelah situasi dinilai kondusif.
Penghentian penerbangan dalam jumlah besar berdampak langsung pada sektor pariwisata, khususnya bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, serta destinasi utama lainnya di UEA.
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abu Dhabi menyatakan telah menerima laporan dari WNI yang terdampak pembatalan penerbangan. Sejumlah jamaah umroh yang transit dari Jeddah ke Abu Dhabi juga mengalami pembatalan penerbangan akibat penutupan wilayah udara.
Sebagian besar WNI yang terdampak telah didata oleh KBRI dan diimbau untuk terus memperbarui informasi dari sumber resmi.
Peringatan Darurat
Pada pukul 13.30 waktu setempat, sistem Peringatan Darurat Nasional (National Emergency Alert) sempat mengirimkan notifikasi kepada warga Abu Dhabi bahwa kondisi telah aman dan normal kembali.
Namun, pada pukul 15.40 waktu setempat, peringatan darurat kembali dikirimkan yang menginformasikan adanya potensi ancaman rudal. Masyarakat diminta mencari tempat aman, menjauhi jendela dan area terbuka, serta menunggu informasi lanjutan dari otoritas terkait.
Situasi di kawasan masih terus berkembang dan berdampak pada aktivitas transportasi udara regional.
Sumber: ANTARA