Negara-negara Teluk Arab Ingatkan AS Biar Gak Serang Iran

waktu baca 3 menit

Ankara (KABARIN) - Negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia kompak mengingatkan Amerika Serikat agar tidak melancarkan serangan militer ke Iran. Mereka menilai langkah tersebut bisa memicu kekacauan ekonomi dan politik di kawasan Timur Tengah.

Sejumlah media melaporkan, Arab Saudi, Oman, dan Qatar telah melakukan lobi tertutup kepada pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Upaya ini dilakukan setelah Gedung Putih memperingatkan negara-negara Teluk untuk bersiap menghadapi kemungkinan tindakan terhadap Teheran, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal.

Meski di ruang publik cenderung memilih diam saat Iran diguncang gelombang protes besar-besaran, negara-negara Teluk disebut aktif menyampaikan kekhawatiran mereka secara langsung kepada para pejabat AS. Tujuannya satu: mendorong Washington agar berpikir ulang sebelum memilih opsi militer.

Pejabat Teluk Arab menilai, upaya menggulingkan pemerintahan Iran lewat jalur militer berisiko besar mengganggu pasokan minyak global. Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, bisa terdampak serius jika konflik pecah.

Selain itu, mereka juga mengkhawatirkan efek domino di dalam negeri masing-masing, mulai dari kerugian ekonomi hingga potensi aksi balasan jika pasukan AS benar-benar bertindak.

Arab Saudi bahkan disebut telah menyampaikan langsung ke Teheran bahwa kerajaan tersebut tidak akan ikut terlibat dalam konflik apa pun, termasuk tidak mengizinkan wilayah udaranya digunakan oleh AS. Sikap ini diambil untuk menjaga jarak dari konfrontasi langsung.

“Presiden mendengarkan berbagai pandangan dalam setiap isu, tetapi pada akhirnya ia mengambil keputusan yang menurutnya paling tepat,” ujar seorang pejabat Gedung Putih.

Hingga kini, Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan final. Namun pada Selasa, ia menulis di media sosial, “Bantuan Sedang Menuju ke Sana,” sembari menyerukan para demonstran Iran agar tetap bertahan.

Para pemimpin Teluk juga menyoroti ketidakpastian masa depan Iran pasca-Ayatollah Ali Khamenei. Mereka khawatir kekuasaan justru beralih ke Korps Garda Revolusi Islam atau memicu kekacauan yang lebih luas di kawasan.

“Mereka tidak memiliki simpati terhadap rezim Iran,” kata mantan Duta Besar AS Michael Ratney, “namun mereka juga sangat menghindari ketidakstabilan.”

Bagi Arab Saudi, stabilitas kawasan menjadi kunci, terutama saat kerajaan tersebut fokus menjalankan program Visi 2030 untuk mendiversifikasi ekonomi. Sejumlah analis menilai, skenario yang paling diinginkan negara-negara Teluk adalah reformasi internal di Iran, bukan runtuhnya pemerintahan secara tiba-tiba.

Iran sendiri tengah diguncang gelombang protes sejak akhir Desember, yang bermula di Grand Bazaar Teheran pada 28 Desember. Aksi tersebut dipicu anjloknya nilai tukar rial dan memburuknya kondisi ekonomi, sebelum meluas ke berbagai kota.

Pemerintah Iran menuding AS dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai “kerusuhan” dan “aksi terorisme.”

Meski pemerintah tidak merilis data resmi korban, Human Rights Activists News Agency memperkirakan lebih dari 2.550 orang tewas, termasuk aparat keamanan dan pengunjuk rasa, serta lebih dari 1.134 orang terluka. Lembaga itu juga mencatat sedikitnya 10.721 orang ditahan dan 18.434 orang diamankan di 585 lokasi di 187 kota yang tersebar di 31 provinsi.

Sumber: Anadolu_OANA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka