Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000- 6.220
Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa di tengah meningkatnya sikap risk off investor akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 19,92 poin atau 0,33 persen ke level 6.057,76. Sementara itu, indeks LQ45 naik 0,74 poin atau 0,12 persen menjadi 603,11.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus atau Nico mengatakan secara teknikal IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan terbatas.
"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000-6.220," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Dari pasar global, sentimen dipengaruhi langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan AS akan menjadi penjaga Selat Hormuz dan mulai memberlakukan blokade terhadap kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran mulai 14 Juli 2026 pukul 16.00 waktu New York.
Trump juga menyatakan akan melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa dan Rabu pekan ini. Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian geopolitik sekaligus memperkecil peluang tercapainya negosiasi damai antara kedua negara.
Selain itu, AS berencana mengenakan tarif sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz, kecuali kapal-kapal Iran yang akan diblokir sepenuhnya.
Menurut Nico, meningkatnya ketegangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), tahun ini.
Di sisi domestik, sentimen positif datang dari keputusan S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.
S&P juga memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,1 persen pada 2026, sebelum mencatat rata-rata pertumbuhan 4,9 persen per tahun hingga 2029. Proyeksi tersebut didukung belanja fiskal, program hilirisasi, serta penguatan pengelolaan sumber daya alam.
Selain itu, lembaga pemeringkat tersebut meyakini pemerintah tetap menjaga defisit APBN di bawah tiga persen dari produk domestik bruto (PDB) sebagai jangkar kebijakan fiskal.
Nico menilai keputusan S&P berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar obligasi dan saham, terutama sektor yang berorientasi pada pasar domestik seperti perbankan, konsumer, dan infrastruktur.
Namun, ia mengingatkan ruang penguatan pasar masih akan dipengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta perkembangan ekonomi global dan arus modal asing.
Pada perdagangan Senin, bursa saham Eropa ditutup bervariasi. Indeks Euro Stoxx 50 turun 0,01 persen, FTSE 100 Inggris naik 0,01 persen, DAX Jerman menguat 0,19 persen, dan CAC 40 Prancis bertambah 0,31 persen.
Sementara itu, Wall Street ditutup melemah dengan indeks S&P 500 turun 0,79 persen, Nasdaq Composite terkoreksi 1,88 persen, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,26 persen.
Di kawasan Asia pada perdagangan pagi ini, indeks Nikkei menguat 0,09 persen, sedangkan Shanghai turun 0,16 persen, Hang Seng melemah 1,06 persen, dan Strait Times terkoreksi 0,93 persen.
Sumber: ANTARA