Korsel Siap Menyikapi Putusan MA AS Soal Tarif Trump

waktu baca 2 menit

Washington (KABARIN) - Korea Selatan tengah bersiap menghadapi berbagai kemungkinan sambil mengamati langkah negara lain jika Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan menentang kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump.

Menteri Perdagangan Korsel Yeo Han-koo mengatakan hal ini dalam pertemuan dengan wartawan di Washington, Rabu (14/1), menegaskan bahwa Seoul menyiapkan respons terbaik tergantung perkembangan situasi.

Yeo berada di AS saat Mahkamah Agung meninjau legalitas penggunaan Undang-Undang Kewenangan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) 1977 yang menjadi dasar Trump mengenakan tarif terhadap mitra dagang utama, termasuk Korea Selatan, Uni Eropa, dan Jepang.

Awalnya Yeo berencana kembali ke Korea Selatan pada hari yang sama, tetapi ia menunda penerbangan untuk menelaah dampak potensial dari proklamasi Trump yang menetapkan tarif 25 persen untuk beberapa semikonduktor AI.

“Sambil melihat bagaimana negara lain yang memiliki perjanjian perdagangan dengan AS merespons, Korea Selatan perlu mengeksplorasi opsi terbaik sesuai perkembangan situasi,” ujar Yeo.

Mendag Korsel juga menekankan bahwa pemerintah Trump tetap bertekad menggunakan semua instrumen yang ada untuk mempertahankan tarif meski pengadilan memutuskan menentangnya. Putusan MA diperkirakan memiliki peluang 50-50 untuk mendukung atau menolak tarif IEEPA, sehingga sulit memprediksi hasilnya.

Yeo menambahkan bahwa para ahli di Washington memperkirakan putusan bisa keluar kapan saja dan jika MA menolak tarif, proses pengembalian dana bagi perusahaan bisa jadi rumit.

Meski begitu, pemerintah Korsel menyiapkan strategi menghadapi semua skenario, termasuk kemungkinan Trump memanfaatkan dasar hukum lain untuk tetap mengenakan tarif.

Terkait proklamasi tarif cip, Yeo menyebut akan menelaah dampaknya terhadap produsen cip Korea Selatan. Tarif 25 persen ini berlaku untuk cip AI yang diimpor ke AS dan diekspor kembali, namun tidak menyasar cip yang digunakan di pusat data AS atau untuk aplikasi konsumen non pusat data.

Dengan langkah ini, Korsel berusaha menjaga kepentingan produsen domestik sambil tetap memantau situasi global.

Sumber: YHP

Bagikan

Mungkin Kamu Suka