Islamabad (KABARIN) - Cuaca ekstrem kembali membawa duka di Afghanistan. Hujan dan salju lebat yang mengguyur sejumlah provinsi dalam beberapa hari terakhir dilaporkan menewaskan sedikitnya 61 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya.
Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Afghanistan (ANDMA) menyebutkan, kondisi cuaca yang memburuk menyebabkan salju tebal menutup jalan-jalan utama, terutama di wilayah pegunungan yang sulit dijangkau. Situasi ini membuat mobilitas warga lumpuh dan memperlambat proses evakuasi.
“Dalam tiga hari terakhir, sedikitnya 61 orang meninggal dunia dan 110 lainnya mengalami luka-luka akibat hujan dan salju lebat,” ujar juru bicara ANDMA, Hafiz Muhammad Yousaf Hamad, dalam pernyataan video yang diunggah di platform X, Sabtu (24/1).
Menurut Hamad, sejumlah wilayah terdampak parah, termasuk Kabul, Parwan, Panjshir, Ghazni, dan Nuristan. Di daerah-daerah perbukitan, banyak ruas jalan masih tertutup salju, meskipun pihak berwenang terus berupaya membuka akses dan menyalurkan bantuan darurat bagi warga yang terisolasi.
Dampak cuaca ekstrem ini juga dirasakan langsung oleh warga. Sebanyak 458 rumah dilaporkan rusak, baik sebagian maupun seluruhnya, memaksa sekitar 360 keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Salah satu jalur vital Afghanistan, Jalan Raya Salang, yang menghubungkan wilayah utara dengan Kabul dan kawasan selatan, hingga kini masih ditutup demi keselamatan. Penutupan jalur ini turut menghambat distribusi logistik dan bantuan kemanusiaan.
Hamad pun mengimbau masyarakat untuk menghindari perjalanan yang tidak mendesak, terutama ke wilayah dengan curah salju tinggi. Ia juga meminta warga lebih waspada saat melintasi jalanan licin dan rawan longsor.
Cuaca ekstrem ini kembali menjadi pengingat keras akan tantangan musim dingin di Afghanistan, terutama bagi warga yang tinggal di daerah terpencil dan pegunungan.
Sumber: ANAD