Pemerintah Paparkan Risiko Dampak Ekonomi RI dari Ketegangan AS dan Iran

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Pemerintah mengingatkan adanya sejumlah risiko terhadap perekonomian Indonesia akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat bersama Israel dengan Iran di kawasan Timur Tengah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan salah satu ancaman utama berasal dari kemungkinan terganggunya jalur energi dunia, terutama jika terjadi penutupan Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting pengiriman minyak global sehingga gangguan di wilayah itu bisa memicu lonjakan harga energi.

"Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global, ditandai volatilisasi tinggi pada indeks pasar baik VIX maupun MOVE, pergeseran investor ke aset safe haven, penguatan indeks dolar AS, DXY, serta kenaikan yield US Treasury yang 10 Tahun," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA edisi Maret di Jakarta.

Dari sisi perdagangan, kenaikan harga minyak berpotensi membuat biaya impor energi Indonesia ikut meningkat. Kondisi ini dapat menekan surplus neraca perdagangan sekaligus memengaruhi keseimbangan transaksi eksternal.

Di pasar keuangan, ketidakpastian global juga berisiko memicu keluarnya dana investor dari dalam negeri. Situasi tersebut bisa memberi tekanan pada pasar saham, obligasi, hingga nilai tukar rupiah, sekaligus meningkatkan biaya pendanaan.

Meski begitu, pemerintah menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN tetap bisa berperan sebagai penahan guncangan ekonomi. Namun potensi kenaikan subsidi energi dan beban bunga utang tetap perlu diwaspadai.

Di sisi lain, lonjakan harga beberapa komoditas justru dapat memberikan tambahan penerimaan negara. Komoditas yang dimaksud antara lain batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit atau CPO.

"Pemerintah juga terus memantau perkembangan ini secara ketat, memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif dan menjaga fiskal tetap prudent agar respons kebijakan tetap terukur guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat," tuturnya.

Sementara itu Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai konflik di Timur Tengah membuat harga minyak dunia bergerak lebih fluktuatif dalam waktu dekat.

Ia menyebut harga minyak jenis Brent crude oil sempat menembus 103,74 dolar AS per barel pada 9 Maret, tetapi kemudian kembali turun ke kisaran 87 hingga 88 dolar AS per barel.

"Harga Indonesia Crude Price (ICP) kita enggak jauh dari Brent, hanya 4 dolar di bawah Brent biasanya. Jadi efeknya kira-kira hanya sekitar 84 atau 85 dolar AS per barel," kata dia.

Meski demikian, harga minyak masih berpotensi naik hingga sekitar 90 sampai 100 dolar AS per barel jika gangguan distribusi energi di Selat Hormuz terus berlanjut. Sebaliknya, harga bisa kembali turun mendekati 70 dolar AS per barel apabila ketegangan geopolitik mereda.

Untuk menghadapi kemungkinan tersebut, pemerintah juga memperkuat strategi ketahanan energi nasional dengan menjaga cadangan energi serta memastikan pasokan energi di dalam negeri tetap lancar.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka