Gaya Busana Pria yang Jadi Tren di Paris Fashion Week 2026

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Pekan Mode Pria Paris 2026, yang berakhir Minggu lalu waktu setempat, menampilkan koleksi yang cenderung praktis dan klasik, mencerminkan pendekatan aman di tengah ketidakpastian industri fashion, kata para ahli.

Menurut laman Hindustan Times, edisi Musim Gugur/Musim Dingin kali ini lebih terukur dari segi gaya dan substansi.

“Ini merupakan musim yang cukup konservatif, tanpa adanya tawaran yang luar biasa," kata Matthieu Morge Zucconi, kepala bagian mode pria di surat kabar Le Figaro Prancis, kepada AFP.

Setelan jas dan dasi klasik menjadi sorotan utama di atas runway. Palet warna yang dominan adalah hitam, abu-abu, krem, dan cokelat. Jaket besar dari musim sebelumnya kini lebih pas di badan, tetap longgar tapi terlihat lebih tradisional.

“Saya rasa seiring bertambahnya usia dan cara pandangan saya terhadap dunia yang kini berkembang, saya ingin menciptakan siluet yang sedikit lebih pas di badan,” kata Emeric Tchatchoua, kepala 3.Paradis yang berbasis di Paris, kepada AFP.

Pharrell Williams dari Louis Vuitton menekankan bahwa koleksinya dirancang untuk bertahan lama dan tidak cepat ketinggalan zaman, sebagai bentuk busana yang tak lekang oleh waktu.

Adrien Communier, kepala bagian mode di majalah GQ Prancis, menilai tren ini menandakan kembalinya fokus pada pakaian dasar yang bisa dipakai sehari-hari dan tahan lama. Masyarakat dan desainer kini lebih memilih busana yang awet daripada mengikuti tren musiman yang cepat usang.

Beberapa desainer seperti Jonathan Anderson dari Dior terlihat lebih berani. Ia menghadirkan kemeja bermotif kotak dengan epaulet berhiaskan rhinestones, sementara model mengenakan wig kuning atau wig runcing.

Jaket Bar Dior juga didesain ulang lebih kecil, mantel jubah abu-abu Dries van Noten diberi permata kecil, dan mantel bulu imitasi muncul di koleksi KidSuper dan Willy Chavarria.

Sulaman, motif bunga, dan jaket bomber tambal sulam juga muncul di beberapa runway, dengan sentuhan warna cerah seperti ungu terlihat dari Dior, Vuitton, Issey Miyake, hingga Etudes Studio.

Merek-merek besar berusaha meyakinkan pelanggan untuk tetap memilih gaya aman di tengah ketidakstabilan dunia. Simon Longland, kepala pembeli fesyen Harrod's London, mengatakan bahwa pekan mode ini menekankan “fleksibilitas, kenyamanan, dan daya tahan.”

“Secara umum, koleksi-koleksi tersebut terasa kurang didorong oleh tren dan lebih fokus pada menciptakan karya-karya yang memiliki tujuan pakaian yang dimaksudkan untuk dikenakan, dihayati, dan dihargai selama beberapa musim, bukan hanya ditentukan oleh momen tertentu saja," ujarnya.

Sumber: Hindustan Times

Bagikan

Mungkin Kamu Suka