Waspada Virus Nipah, Penyakit Emerging yang Jadi Perhatian Dunia

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Selama dua dekade terakhir, jumlah penyakit infeksi emerging terus meningkat.

Penyakit infeksi emerging adalah penyakit yang muncul untuk pertama kalinya di suatu populasi atau penyakit lama yang tiba-tiba meningkat dengan cepat, baik dari jumlah kasus maupun penyebarannya ke wilayah baru.

Saat ini, virus Nipah menjadi salah satu penyakit infeksi emerging yang mendapat perhatian global.

Berdasarkan laporan Kemenkes RI pada 2023, World Health Organization atau WHO menempatkan virus Nipah sebagai salah satu dari sembilan penyakit emerging dengan potensi epidemi prioritas.

Mengenal virus Nipah

Virus Nipah (NiV) adalah virus RNA dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.

Virus ini termasuk zoonosis, artinya bisa menular dari hewan ke manusia. Penularan dapat terjadi lewat kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti kelelawar atau babi, atau melalui makanan yang terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran hewan.

Virus Nipah juga dapat menular antar manusia melalui kontak dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi.

Virus ini mampu menyerang berbagai jenis sel pada manusia dan hewan, termasuk sel sistem saraf, pernapasan, dan kardiovaskular. Pada manusia, infeksi virus ini bisa memicu radang otak yang berpotensi fatal.

Tingkat kematian akibat infeksi virus Nipah cukup tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen.

Awal mula penyebaran

Menurut Kemenkes RI, wabah virus Nipah pertama tercatat di Malaysia pada 1998. Saat itu tercatat 265 kasus pada manusia dengan 105 korban meninggal, dan lebih dari satu juta babi dimusnahkan.

Pada 1999, virus ini menyebar ke Singapura melalui impor babi dari Malaysia. Sejak 2001, virus Nipah muncul secara berkala di Bangladesh dengan lima kali wabah hingga 2021.

Gejala virus Nipah

Virus Nipah kerap menunjukkan gejala mirip flu sehingga sulit dikenali di awal.

Gejala termasuk demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, sakit tenggorokan, hingga batuk. Beberapa penderita juga mengalami lemas, pusing, dan gangguan pernapasan ringan.

Jika penyakit berkembang, infeksi bisa menyebabkan pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut yang membutuhkan penanganan intensif.

Dalam kasus berat, virus Nipah dapat menyebabkan peradangan otak dengan gejala seperti kantuk berat, kebingungan, kesulitan berkonsentrasi, kejang, hingga koma.

Cara mencegah penularan virus Nipah

Hingga kini belum ada obat atau vaksin untuk virus Nipah, namun pencegahan bisa dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

1. Hindari minum nira atau aren langsung dari pohon tanpa dimasak. Kelelawar malam hari bisa mengontaminasi nira atau aren.

2. Cuci dan kupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.

3. Buang buah yang telah digigit kelelawar.

4. Pastikan daging hewan ternak dimasak matang.

5. Terapkan protokol kesehatan seperti cuci tangan, gunakan hand sanitizer, etika batuk dan bersin, serta pakai masker jika sakit.

6. Hindari kontak langsung dengan hewan ternak yang berisiko, terutama babi dan kuda, dan gunakan APD jika terpaksa.

7. Petugas yang menangani hewan terinfeksi wajib memakai sarung tangan dan alat pelindung diri. Hewan yang terpapar virus tidak boleh dikonsumsi.

8. Tenaga kesehatan, keluarga pasien, dan petugas laboratorium harus menerapkan langkah pencegahan dan pengendalian infeksi secara ketat sesuai standar.

Meski belum ada kasus virus Nipah di Indonesia, pemerintah meminta masyarakat tetap waspada dan siaga.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka