Dinkes Bali Antisipasi Penyebaran Virus Nipah Melalui Babi

waktu baca 3 menit

Denpasar (KABARIN) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus Nipah, terutama melalui ternak babi. Langkah ini diambil karena Bali dikenal sebagai salah satu daerah dengan produksi babi terbesar di Indonesia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk memastikan pengawasan terhadap hewan ternak berjalan ketat.

“Jadi tentu ini yang tetap kami amankan, kami juga berkoordinasi dengan dinas pertanian untuk kewaspadaan terhadap virus Nipah ini di hewannya,” kata Raka Susanti di Denpasar, Kamis.

Ia menjelaskan, virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia. Virus ini diketahui memiliki inang alami berupa kelelawar dan dapat menular ke hewan lain, termasuk babi.

Raka mengingatkan kasus kejadian luar biasa (KLB) virus Nipah yang pernah terjadi di Malaysia pada 1998. Saat itu, penularan dari babi ke manusia membuat pemerintah setempat harus memusnahkan banyak ternak babi untuk menghentikan penyebaran.

Meski sampai sekarang belum ada laporan penularan virus Nipah melalui babi di Indonesia, Dinkes Bali tetap bersikap waspada. Apalagi, posisi Bali sebagai produsen babi terbesar membuat potensi risiko tetap perlu diantisipasi sejak dini.

“Virus Nipah ini ada di air liur kelelawar, kalau dia misalnya makan buah air liurnya di situ, kemudian sisanya kita atau binatang seperti babi yang konsumsi jadi bisa terinfeksi, itu yang kita harus waspadai,” ujar Raka.

Selain pengawasan terhadap hewan ternak, Dinkes Bali juga memperketat potensi masuknya virus dari lalu lintas orang. Pengawasan dilakukan melalui Balai Besar Karantina Kesehatan di bandara dan pelabuhan.

Beberapa negara yang menjadi fokus kewaspadaan antara lain Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Thailand, yang telah menetapkan status kejadian luar biasa terkait virus Nipah.

Hingga kini, belum ada kasus virus Nipah yang ditemukan di Bali. Meski begitu, Pemerintah Provinsi Bali memastikan kegiatan surveilans kesehatan terus dilakukan untuk memantau kemungkinan munculnya penyakit tersebut.

Raka juga menegaskan seluruh fasilitas kesehatan di Bali dalam kondisi siap siaga. Mulai dari puskesmas, rumah sakit umum daerah (RSUD), hingga rumah sakit swasta telah menyiapkan ruang isolasi, tenaga kesehatan, dan ketersediaan obat-obatan.

“Di Bali dengan 120 puskesmas, masing-masing kabupaten sudah ada RSUD, kemudian rumah sakit swasta juga siap dengan ruang isolasi dan tenaganya, kami yakin semua siap karena kita sudah belajar dari COVID-19,” kata Raka.

Sebagai informasi, virus Nipah memiliki gejala awal yang mirip dengan COVID-19, seperti flu dan demam. Namun, dampaknya bisa jauh lebih serius karena berisiko menyebabkan radang paru-paru, radang otak, hingga tingkat kematian yang mencapai 45–75 persen.

Pemprov Bali juga mengajak masyarakat ikut berperan aktif dalam pencegahan. Cara paling sederhana adalah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan, serta tidak mengonsumsi buah atau makanan yang kebersihannya tidak terjamin.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka