Jakarta (KABARIN) - Apple melaporkan kinerja keuangan yang kuat pada kuartal pertamanya tahun ini, utamanya berkat penjualan iPhone yang mencapai rekor tertinggi.
"Hal itu didorong oleh iPhone, di mana kami mencetak rekor pendapatan tertinggi sepanjang masa," kata Pemimpin Eksekutif Apple Tim Cook sebagaimana dikutip siaran TechCrunch pada Kamis (29/1).
Dalam konferensi pendapatan perusahaan pada Kamis (29/1), ia menyampaikan bahwa lonjakan permintaan iPhone membuat Apple merasakan kuartal terbaik iPhone dalam sejarah di Greater China, yang meliputi China Daratan (Republik Rakyat China), Hong Kong, Makau, dan Taiwan.
"iPhone mencatat kuartal terbaik sepanjang masa didorong permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan rekor tertinggi di semua segmen geografis," katanya.
Menurut laporan pendapatan Apple, nilai penjualan iPhone pada kuartal pertama mencapai 85 miliar dolar AS atau sekira Rp1.428 triliun, meningkat dari 69 miliar dolar AS (sekitar Rp1.159 triliun) pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Cook menyampaikan bahwa lonjakan penjualan iPhone di China antara lain didorong oleh antusiasme terhadap model iPhone 17 yang diluncurkan pada September 2025.
Pendapatan Apple di Greater China naik dari 18,5 miliar dolar AS (Rp310,8 triliun) pada kuartal sebelumnya menjadi 25,5 miliar dolar AS (Rp428,4 triliun).
Cook mengatakan bahwa trafik pengunjung di toko-toko Apple di China tumbuh dua digit secara tahunan pada kuartal tersebut.
Tim Cook mengatakan bahwa perangkat Apple juga laris manis di India.
Ia mengatakan bahwa Apple mencatat pendapatan tertinggi untuk iPhone, Mac, iPad, dan layanan di India, yang menurut dia merupakan pasar ponsel pintar terbesar kedua dan pasar PC terbesar keempat di dunia.
Selain iPhone, penjualan produk Apple secara keseluruhan meningkat di seluruh wilayah.
Di Amerika, pendapatannya naik dari 52,6 miliar dolar AS (Rp883,7 triliun) menjadi 58,5 miliar dolar AS (Rp982,8 triliun) dan pendapatannya di Eropa meningkat dari 33,8 miliar dolar AS (Rp567,8 triliun) menjadi 38,1 miliar dolar AS (Rp640,1 triliun).
Sumber: Tech Crunch