Indonesia Negara Hangat, Migrasi Satwa Berpotensi Bawa Virus Nipah

waktu baca 2 menit

Migrasi burung dan kelelawar ini cukup berpotensi, karena mereka terbang menggunakan kompas alam mencari wilayah-wilayah yang hangat untuk berkembang biak dan Indonesia merupakan wilayah khatulistiwa, merupakan negara hangat

Pangkalpinang (KABARIN) - Perubahan iklim global ternyata tidak hanya berdampak pada cuaca ekstrem, tetapi juga memicu pergerakan satwa lintas negara. Balai Karantina Kesehatan (BKK) Kelas II Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengingatkan bahwa migrasi kelelawar dan burung dari berbagai negara, khususnya dari wilayah seperti India, berpotensi membawa virus Nipah ke Indonesia.

Kepala BKK Kelas II Pangkalpinang Agus Syah menegaskan bahwa virus Nipah merupakan penyakit yang harus diwaspadai karena dapat menular ke manusia dengan tingkat kematian yang tinggi.

“Virus Nipah harus menjadi perhatian serius, karena tingkat fatalitasnya cukup tinggi apabila menular ke manusia,” ujar Agus di Pangkalpinang, Sabtu.

Menurutnya, potensi masuknya virus tersebut semakin besar seiring dengan fenomena migrasi satwa liar akibat badai dingin ekstrem yang melanda sejumlah negara. Dalam kondisi tersebut, burung dan kelelawar cenderung mencari wilayah dengan suhu lebih hangat untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

“Indonesia merupakan negara khatulistiwa dengan iklim hangat. Itu menjadi salah satu tujuan singgah bagi burung dan kelelawar dari berbagai negara,” jelasnya.

Agus mencontohkan, belum lama ini puluhan burung dari Rusia terpantau bermigrasi ke Jawa Timur. Fenomena tersebut menjadi sinyal bahwa gelombang migrasi satwa lintas negara tengah berlangsung.

“Jika burung bisa bermigrasi sejauh itu, maka tidak menutup kemungkinan kelelawar dari berbagai negara juga melakukan hal yang sama dan berpotensi membawa virus,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kelelawar merupakan salah satu inang alami virus Nipah. Dengan banyaknya jenis kelelawar yang hidup di hutan tropis Indonesia, potensi virus tersebut untuk bertahan dan menyebar perlu diantisipasi sejak dini.

Meski demikian, Agus memastikan bahwa hingga tahun 2025, temuan suspek virus Nipah di Indonesia masih menunjukkan hasil negatif. Suspek tersebut sempat ditemukan di Riau, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara.

“Walaupun hasilnya negatif, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Migrasi burung dan kelelawar ini adalah fenomena alam yang tidak bisa dihindari,” ujarnya.

Ia menambahkan, satwa migran menggunakan kompas alam untuk mencari wilayah yang hangat dan aman. Indonesia, dengan kondisi alamnya, menjadi tempat singgah yang ideal.

“Yang terpenting adalah kesiapsiagaan, pemantauan, dan edukasi masyarakat agar potensi risiko kesehatan bisa ditekan,” tutup Agus.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka