Krisis Kemanusiaan Gaza Memburuk, 32 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Udara Israel

waktu baca 2 menit

Gaza (KABARIN) - Serangkaian serangan udara Israel di Jalur Gaza sejak Jumat (30/1) malam hingga Sabtu (31/1) siang waktu setempat kembali menimbulkan krisis kemanusiaan, dengan sedikitnya 32 warga Palestina tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, serta puluhan lainnya mengalami luka serius.

Sumber-sumber Palestina menyebut serangan tersebut menghantam permukiman padat penduduk, tenda-tenda pengungsian, dan fasilitas sipil, memperparah kondisi warga yang telah hidup dalam keterbatasan akibat konflik berkepanjangan.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza Mahmoud Basal mengatakan salah satu serangan paling mematikan menghantam pusat kepolisian Sheikh Radwan di Gaza City bagian utara, menewaskan 14 orang. Selain korban tewas, sejumlah warga dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan, sementara bangunan dan rumah di sekitar lokasi mengalami kerusakan berat.

Di wilayah selatan Gaza, serangan udara terhadap tenda pengungsian di kawasan Asdaa, Khan Younis utara, menewaskan tujuh anggota satu keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak. Saksi mata menyebut keluarga tersebut kehilangan tempat tinggal akibat konflik sebelumnya dan bergantung pada tenda darurat untuk bertahan hidup.

Serangan lain juga menghantam apartemen permukiman di kawasan al-Rimal serta kawasan al-Nasr di Gaza City, menambah daftar korban sipil. Warga setempat menggambarkan situasi penuh kepanikan, dengan banyak keluarga terpaksa mengungsi kembali ke lokasi yang dianggap lebih aman, meski pilihan tempat perlindungan semakin terbatas.

Sistem kesehatan Gaza kian tertekan. Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, menyatakan lebih dari 30 korban luka dirawat akibat serangan terbaru, sebagian besar memerlukan operasi darurat. Keterbatasan obat-obatan, listrik, dan peralatan medis membuat penanganan korban berjalan dalam kondisi yang sangat sulit.

Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Namun, Hamas membantah klaim tersebut dan menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah memperburuk penderitaan warga sipil.

Hamas menyerukan kepada komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil langkah nyata guna menghentikan serangan, melindungi warga sipil, serta memastikan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat Gaza yang terdampak.

Otoritas kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan, 509 warga Palestina tewas dan 1.409 lainnya terluka akibat tembakan Israel. Secara keseluruhan, sejak Oktober 2023, jumlah korban jiwa di Gaza telah mencapai 71.769 orang, dengan lebih dari 171.000 korban luka, sebagian besar merupakan warga sipil.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka