Iran Buka Dialog Nuklir dengan AS, Tapi Tegas Tolak Bahas Program Rudal

waktu baca 2 menit

Teheran (KABARIN) - Di tengah kembali berdenyutnya diplomasi antara Teheran dan Washington, Iran menegaskan satu garis merah yang tak bisa dilangkahi: program rudalnya. Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan bahwa isu tersebut tidak akan pernah masuk meja perundingan, termasuk dalam dialog dengan Amerika Serikat.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan Al Jazeera Qatar pada Sabtu (7/2). Cuplikan wawancara tersebut kemudian dibagikan melalui saluran Telegram pribadinya dalam bahasa Persia.

Komentar Araghchi muncul tak lama setelah negosiasi tak langsung Iran–AS yang digelar Jumat (6/2). Pertemuan itu secara khusus membahas program nuklir Iran dan disebut Araghchi sebagai “awal yang baik”, meski ia mengingatkan bahwa jalan menuju kepercayaan masih panjang.

“Rudal tidak pernah bisa dinegosiasikan karena itu adalah masalah pertahanan,” ujar Araghchi. Menurutnya, Iran berharap Amerika Serikat dapat memahami posisi tersebut dan menyesuaikannya dalam kebijakan luar negeri mereka.

Dalam beberapa bulan terakhir, AS terus mendesak Iran agar membatasi program rudalnya—tuntutan yang berulang kali ditolak Teheran. Bagi Iran, kemampuan pertahanan adalah hak kedaulatan yang tidak bisa ditukar dengan konsesi diplomatik.

Araghchi juga menyinggung kegagalan AS dan Israel dalam menghancurkan kemampuan nuklir Iran, meskipun fasilitas-fasilitas atom negara itu sempat dibombardir pada Juni lalu. Ia menegaskan bahwa hak Iran untuk memperkaya uranium di wilayahnya sendiri tidak dapat dicabut.

Menanggapi kemungkinan eskalasi militer, Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak memiliki kemampuan untuk menyerang wilayah daratan AS, namun menegaskan bahwa pangkalan-pangkalan militer Amerika di kawasan Asia Barat tetap berada dalam jangkauan.

Perundingan Jumat lalu, yang dipimpin oleh Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan Araghchi, menandai kembalinya upaya diplomatik kedua negara. Dialog ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional, seiring penguatan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.

Meski diplomasi kembali dibuka, pernyataan Araghchi menunjukkan bahwa bagi Iran, keamanan nasional bukan sekadar bahan kompromi, melainkan fondasi yang tak bisa digoyahkan.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka