Istanbul (KABARIN) - Di tengah meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tampil dengan pesan yang tegas namun terukur. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Sabtu, ia menegaskan satu hal penting: Teheran siap bernegosiasi, siap mencapai kesepakatan, tetapi tidak akan pernah menyetujui pengayaan uranium nol.
Bagi Iran, isu nuklir bukan sekadar persoalan teknis, melainkan soal hak dan kedaulatan. Araghchi menyebut pengayaan uranium sebagai hak yang dijamin dan tidak bisa dinegosiasikan untuk dihapuskan.
“Negosiasi adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan isu nuklir Iran,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kembalinya Amerika Serikat ke meja perundingan setelah sempat melontarkan ancaman militer merupakan “titik awal yang baik”.
Meski begitu, ia tak menutup mata bahwa membangun kembali kepercayaan antara Teheran dan Washington akan memakan waktu panjang. Dialog masih berlangsung secara tidak langsung, terbatas hanya pada isu nuklir, dan belum menyentuh topik sensitif lain seperti program rudal Iran.
Bagi Araghchi, isu rudal berada di wilayah pertahanan nasional—bukan materi tawar-menawar, kini maupun nanti.
Iran, katanya, terbuka untuk membangun kepercayaan dan mencapai kesepakatan yang “adil dan saling menguntungkan”. Ia bahkan menyebut kesepakatan yang “meyakinkan semua pihak” sebagai tujuan realistis, selama garis merah Teheran dihormati.
Namun, satu garis merah itu jelas: pengayaan nol tidak pernah ada di meja perundingan.
“Bahkan pemboman pun gagal menghancurkan kemampuan kami,” kata Araghchi, mengirim sinyal bahwa tekanan militer justru memperkeras posisi Iran.
Soal keamanan kawasan, ia menepis anggapan Iran mengancam negara-negara tetangga. Menurutnya, jika diserang, Iran hanya akan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, bukan negara lain.
“Kami tidak menyerang negara tetangga; kami menargetkan pangkalan AS di kawasan. Perbedaannya sangat besar,” tegasnya.
Araghchi juga mengakui bahwa risiko perang selalu ada. Namun, ia menekankan Iran tetap berupaya mencegah konflik terbuka, meski siap menghadapi skenario terburuk.
Dalam dinamika diplomasi yang rapuh ini, secercah harapan tetap muncul. Meski perundingan berlangsung tidak langsung, Araghchi menyebut peluang untuk “jabat tangan” dengan delegasi AS tetap terbuka.
Belum ada tanggal pasti untuk putaran kedua perundingan, tetapi kedua pihak sepakat pertemuan lanjutan perlu segera dilakukan. Muscat, Oman, kembali disebut sebagai lokasi potensial.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menggambarkan pembicaraan terakhir sebagai diskusi yang “sangat serius”, dengan masing-masing pihak mulai memperjelas posisi dan membuka ruang kemajuan.
Di tengah bayang-bayang ancaman militer dan sejarah panjang ketidakpercayaan, diplomasi Iran-AS kembali berjalan—pelan, hati-hati, dan penuh kalkulasi.
Sumber: ANAD