Washington (KABARIN) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan kesepakatan baru dengan Iran bisa tercapai dalam waktu sekitar satu bulan ke depan. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Kamis di Gedung Putih, sambil memperingatkan Teheran bahwa kegagalan mencapai kesepakatan bisa berujung pada situasi berbahaya.
Saat ditanya wartawan soal tenggat waktu yang ia bayangkan untuk tercapainya kesepakatan, Trump menjawab, "Saya kira dalam sebulan ke depan, sesuatu seperti itu, seharusnya terjadi dengan cepat."
Menurut Trump, kesepakatan menjadi jalan terbaik untuk mencegah eskalasi konflik. "Kita harus membuat kesepakatan, jika tidak, itu akan sangat traumatis. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi kita harus membuat kesepakatan," kata Trump.
Ia juga menyinggung serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. "Mereka seharusnya membuat kesepakatan sejak awal. Mereka malah mendapatkan Midnight Hammer, dan ini akan sangat traumatis bagi Iran jika mereka tidak membuat kesepakatan," ujarnya.
Trump mengungkapkan bahwa ia baru saja menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. "Kami mengadakan pertemuan yang sangat baik kemarin dengan Bibi Netanyahu, dan dia mengerti, tetapi pada akhirnya terserah saya. Jika kesepakatan itu bukan kesepakatan yang sangat adil dan sangat baik dengan Iran, maka saya pikir itu akan menjadi masa yang sangat sulit bagi mereka," tambahnya.
Meski begitu, Trump menegaskan belum ada keputusan final dari pertemuan tersebut. "Tidak ada hal pasti yang dicapai selain saya bersikeras agar negosiasi dengan Iran dilanjutkan untuk melihat apakah kesepakatan dapat diselesaikan atau tidak," kata dia.
Saat ditanya apakah Netanyahu mendorong agar AS menghentikan pembicaraan dengan Iran, Trump menjawab, "Kami tidak membahas itu. Saya akan berbicara dengan mereka selama yang saya inginkan, dan kita akan lihat apakah kita bisa mendapatkan kesepakatan dengan mereka."
Amerika Serikat dan Iran diketahui telah kembali menggelar negosiasi di Oman pada Jumat lalu. Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak serangan pada Juni, sekaligus menandai berakhirnya masa penangguhan pembicaraan selama sekitar delapan bulan. Kedua pihak diperkirakan masih akan melanjutkan putaran perundingan berikutnya, meski jadwal pastinya belum ditentukan.
Di tengah proses negosiasi, AS juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Trump kembali memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan. Salah satu langkah yang dilakukan AS adalah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dari Laut China Selatan ke kawasan Timur Tengah.
Dari pihak Iran, pemerintah setempat menuding AS dan Israel mengarang dalih untuk melakukan intervensi militer dan mendorong perubahan rezim. Iran memperingatkan akan merespons setiap serangan militer, meski terbatas. Teheran juga menegaskan pencabutan sanksi ekonomi Barat menjadi syarat utama jika mereka diminta membatasi program nuklirnya.
Isu pengayaan uranium masih menjadi titik paling alot dalam negosiasi. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan memindahkan uranium yang sangat diperkaya ke luar negeri. Namun, tuntutan itu dinilai tidak bisa diterima oleh Teheran.
Selain soal nuklir, Washington juga ingin memasukkan program rudal Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan ke dalam agenda negosiasi. Iran menolak mentah-mentah perluasan topik tersebut dan bersikeras bahwa perundingan hanya akan membahas program nuklir, tidak lebih.
Sumber: ANAD