24 PPDS Baru Dibuka, Indonesia Siap Cetak Dokter Spesialis Lebih Banyak

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Suasana di kampus terasa berbeda pagi itu. Bukan sekadar seremoni akademik biasa — ada optimisme besar tentang masa depan layanan kesehatan Indonesia.

Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pemerintah bersama jaringan kampus Muhammadiyah resmi membuka 24 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru di berbagai daerah.

Bagi masyarakat, ini bukan hanya kabar kampus. Ini kabar tentang masa depan berobat: antrean lebih singkat, dokter spesialis lebih dekat, dan harapan tak perlu lagi jauh-jauh ke luar negeri.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan satu hal penting — pendidikan dokter spesialis bukan industri, melainkan pengabdian.

Pendidikan dokter bukan ruang komersialisasi, tapi tempat lahirnya tenaga kesehatan yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

Bukan Sekadar Tambah Dokter, Tapi Bangun Kepercayaan

Selama ini banyak pasien Indonesia memilih berobat ke luar negeri. Alasannya klasik: fasilitas, layanan, dan rasa percaya.
Program PPDS baru ini ingin membalik keadaan.

Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah ditargetkan berkembang menjadi pusat unggulan layanan medis. Harapannya sederhana tapi ambisius: bukan warga Indonesia yang keluar negeri berobat, melainkan pasien luar negeri yang datang ke Indonesia.

Bayangkan sebuah ekosistem: kampus menyiapkan ilmunya, rumah sakit jadi tempat praktik terbaiknya, masyarakat merasakan langsung manfaatnya.

Menurut Menteri Brian, kualitas kesehatan bukan cuma urusan rumah sakit — tapi juga stabilitas negara. Negara kuat salah satunya ditopang oleh rakyat yang sehat dan mandiri secara medis.

Karena itu, pembukaan PPDS tidak hanya menambah jumlah dokter spesialis, tetapi juga memperkuat fondasi kesehatan jangka panjang: dari pendidikan, layanan, hingga kepercayaan publik.

Dokter Hebat Bukan Hanya Pintar

Targetnya bukan sekadar dokter kompeten. Yang ingin dilahirkan adalah dokter dengan empati, integritas, dan rasa pengabdian — dokter yang tidak hanya menyembuhkan penyakit, tapi juga menenangkan pasien.

“Jadikan ini ladang amal,” pesan Menteri Brian.

Kampus yang Terlibat

Total ada 7 kampus Muhammadiyah yang membuka program spesialis pertama mereka:

  • Universitas Muhammadiyah Yogyakarta — 12 program
  • Universitas Muhammadiyah Jakarta — 3 program
  • Universitas Muhammadiyah Makassar — 4 program
  • Universitas Muhammadiyah Semarang — 1 program
  • Universitas Muhammadiyah Surakarta — 1 program
  • Universitas Muhammadiyah Surabaya — 1 program
  • Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara — 2 program

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, beberapa tahun ke depan kita mungkin akan melihat perubahan sederhana tapi bermakna:
Lebih banyak dokter spesialis di kota-kota kita — dan lebih sedikit cerita harus berobat ke negara tetangga.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka