Dokter Ungkap Faktor Risiko Bayi Lahir dengan Penyakit Jantung Bawaan

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kardiologi pediatrik dan penyakit jantung bawaan dr. Asmoko Resta Permana Sp.JP(K) FIHA mengungkapkan bahwa ada sejumlah faktor risiko selama kehamilan yang dapat memicu bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB).

Asmoko mengatakan, risiko PJB pada bayi sebenarnya bisa terdeteksi sejak masa kehamilan. Ada beberapa faktor yang memengaruhi perkembangan janin menjadi tidak sempurna.

“Jadi ibunya apakah punya sakit gula, diabetes, kencing manis, ibunya sakit, demam, infeksi virus waktu hamil dengan jenis-jenis kayak toksoplasma, rubella, ibu dan bapaknya atau salah satu merokok, ibunya ada darah tinggi, konsumsi obat-obatan,” kata Asmoko dalam acara diskusi kesehatan memperingati Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan, risiko bayi lahir dengan PJB juga meningkat pada ibu hamil usia 35 tahun ke atas. Pada usia tersebut, kualitas sel telur cenderung menurun sehingga berpengaruh pada pembentukan organ janin.

Selain itu, faktor genetik juga berperan. Sekitar 5–10 persen orang tua yang memiliki riwayat kelainan jantung bawaan berisiko menurunkan kondisi serupa pada anaknya.

“Jadi sekitar lima persen sampai sepuluh persen anaknya juga jadi ada kelainan jantung bawaan, jadi kalau mungkin nanti ya bisa kasih tau saudara-saudaranya jadi kalau lagi 'pendekatan' ya itu ditanya dulu ya,” katanya.

Asmoko menekankan bahwa upaya pencegahan bisa dilakukan sejak sebelum kehamilan. Deteksi dini penting agar calon orang tua mengetahui apakah memiliki risiko kelainan jantung bawaan yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain muncul warna kebiruan di area mukosa mulut atau mudah lelah meski hanya beraktivitas ringan.

Selain itu, ibu dengan riwayat penyakit seperti diabetes disarankan segera mengontrol kondisi kesehatannya. Kadar gula yang tidak terkontrol dapat mempercepat terjadinya gangguan pembentukan janin. Konsumsi obat-obatan pun harus sesuai anjuran dan dalam pengawasan dokter.

“Foto ronsen atau radiasi hati-hati, terutama trimester satu sebisa mungkin dihindari kalau tidak dibutuhkan kecuali atas anjuran dokter memang diperlukan,” katanya.

Ia juga mengingatkan ibu hamil untuk menghindari paparan asap rokok, konsumsi alkohol, serta rutin melakukan skrining janin yang berfokus pada perkembangan jantung. Dengan deteksi sejak dini, bayi yang lahir dengan PJB bisa mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka