Pemimpin Niger Lempar Tuduhan ke Prancis soal Serangan Bandara, Paris Membantah

waktu baca 2 menit

Pretoria (KABARIN) - Presiden Niger Abdourahamane Tchiani menuding Presiden Prancis Emmanuel Macron berusaha menjatuhkan pemerintahan yang saat ini berkuasa di negaranya. Laporan ini disampaikan kantor berita RIA Novosti pada Minggu (15/2).

Dalam pernyataannya kepada stasiun televisi publik RTN, Tchiani menyebut bahwa sebelum pasukan Prancis hengkang dari Niger, Macron sudah bertekad menggulingkan pemerintahan yang menurutnya memilih jalan mandiri.

Ia juga mengaitkan serangan terhadap bandara Niamey pada 29 Januari dini hari sebagai bagian dari skenario besar untuk mengguncang stabilitas Niger.

Tchiani bahkan sebelumnya menuduh Prancis bersama Benin dan Pantai Gading sebagai pihak yang mendukung para pelaku serangan. Ia juga menyampaikan ancaman balasan atas tuduhan tersebut.

Menurut klaim Tchiani, serangan itu dirancang oleh badan intelijen Prancis melalui sebuah pertemuan rahasia di Niger pada Juli 2025.

Ia juga menyebut bahwa pada 26–28 April, intelijen Prancis disebut menyalurkan dana, senjata, serta perlengkapan militer kepada tentara bayaran.

Namun tuduhan tersebut dibantah pihak Prancis. Media publik RFI melaporkan pada Sabtu bahwa Presiden Macron menolak semua tudingan yang dilontarkan oleh pemimpin junta Niger itu.

Sebelumnya, pada 3 Februari, Al Jazeera melaporkan bahwa pasukan Rusia ikut membantu mengamankan bandara Niamey dari serangan yang diklaim dilakukan oleh kelompok ISIS.

"Serangan itu berhasil dipukul mundur berkat upaya bersama antara Korps Afrika Kementerian Pertahanan Rusia dan angkatan bersenjata Niger," kata Kementerian Luar Negeri Rusia, seperti dikutip Al Jazeera.

Sejak kudeta di Niger pada Juli 2023, hubungan antara Prancis dan bekas koloninya tersebut terus memburuk. Prancis hingga kini menolak mengakui pemerintahan junta militer yang dipimpin oleh Tchiani.

Sumber: SPU

Bagikan

Mungkin Kamu Suka